Keramaian di Dunia Maya Part 9
“Pengumuman. Berikut
pembagian kelas bedah tulisan: Group Bawang Merah diketuai oleh Mabruroh dengan
anggota dua puluh enam orang; Group Kentang diketua oleh K.G. Fery dengan anggota dua puluh enam
orang; Group Cabe Merah diketua oleh Septian
Wijaya dengan anggota dua puluh enam orang; Group Wortel diketuai oleh Sakifah
dengan anggota dua puluh enam orang dengan data terlampir.” Kata admin
melanjutkan.
Aku yang sedari tadi menyimak
keramaian ini, buru – buru mencari namaku ada dimana gerangan. Grup bawang
merah lewat, grup kentang lewat, grup cabe merah ternyata ada namaku, langsung
saja kulompati nama – nama peserta di grup wortel untuk segera membaca
pengumuman selanjutnya.
“Bagaimana?. Sudah siap Ng-ODOP
mulai besok?. Tantangan Pekan I adalah ‘Tentang Aku dan Pengalaman yang Paling
Berkesan di Hidupku’. Tidak ada ketentuan ya, bebas dengan gaya menulis teman
sendiri. Sukses selalu!.” Seru admin lain kemudian.
Pertanyaan demi pertanyaan makin
ramai dan beragam, begitu juga dengan candaan serta ekspresi kekagetan turut
menyertai. Tugas dan tantangan sudah resmi dimulai, bisakah aku melewatinya?
Dari pernyataan ini kuhentikan
penyimakan, karena tugas di dunia nyata masih menunggu untuk diselesaikan.
Meski handphone sudah kumatikan, masih saja nyala pikiran tertuju pada
keramaian pengumuman tantangan, sekarang apa yang harus kutuliskan. Ya
Rahmaan, bantulah hamba mengatasi
kerumitan. Sebait doa pun terpanjatkan.
.
.
.
Disela kesibukan, kucoba membuka
lagi berjubel notif pemberitahuan itu, kali ini sampailah pada pertanyaan dari
sang Abang “Ada beberapa member yang dulunya juga pernah ikutan ODOP, share
dong, kenapa anda semua, yang dulu pernah ikut dan kemudian mundur, kini ikutan
lagi. Saya bener-bener pengen tahu alasannya....”
“Alasan saya bergabung kembali di
ODOP adalah ODOP itu yang saya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya suka menulis,
mau mengembangkan tulisan saya, tapi tidak juga yang menggebu untuk segera
menerbitkan buku. Saya senang membaca tulisan yang bagus-bagus, yang bermakna,
yang tulus, yang ngena ke hati. Nah, saya yakin tulisan seperti itu nggak
terjadi dalam satu hari. Sayangnya, sebagai manusia yang sering lalai menulis
setiap hari lebih sering berakhir sampai niat. Maka, saya perlu berkumpul
dengan orang-orang yang suka menulis juga. Setelah saya mundur dari ODOP 3, di
mana manajemen waktu saya yang buruk yang menjadi alasannya, saya mencoba
mengikuti beberapa komunitas menulis online yang wara-wiri di dunia maya. Tapi,
entahlah bagi saya tidak ada yang sama seperti ODOP. I wasn't fit in there.
Malah sempat beberapa kali merasanya, kok ga kayak ODOP ya . Jujur ada
keunikan dari ODOP yang bikin saya kangen, bikin saya semangat nulis setiap
hari. Keseruan-keseruan yang berbeda dari yang lain. Saya masih inget salah
satu tantangan metafora yang ada comberan sama kalajengking yang bikin saya
mikir gimana nyatuinnya. 😅.
Dan saya belum menemukan kekeluargaan seperti yang saya alami di
ODOP ini.” Balas seorang member mengawali.
Bersambung....


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat