Sabtu, 20 Januari 2018
Jumat, 19 Januari 2018
Kisah Nabi Shalih
Bismillaah
Mengulang-ulang kisah para manusia pilihan tidak akan pernah membosankan, karena dari kisah-kisah seperti ini kita belajar bagaimana menjalani kehidupan yang sesuai dengan tujuan penciptaan.
Sebuah kisah tentang kepingan perjalanan hidup Nabi Shalih Alaihissalam berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
.
.
.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati bekas
kampung-kampung Tsamud yang dibinasakan oleh Allah saat mereka menyembelih unta.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Salam dan para sahabat berdiri di sumur yang dahulu didatangi oleh unta tersebut, dan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan kepada
mereka berita tentang tempat itu. Beliau mengetahuinya dengan pasti. Dari sanalah unta itu datang dan ia pun kembali dari jalan itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memperingatkan mereka agar tidak berlaku
seperti perilaku kaum Nabi Shalih. Mereka meminta ayat (mukjizat), lalu Allah mengeluarkan kepada mereka mukjizat besar, yaitu unta. Mereka mendustakan dan
menyembelihnya, maka Allah membinasakan mereka dan
menurunkan adzab dan balasan-Nya.
Nash Hadist
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari
Jabir. Ia berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati Hijr, beliau bersabda, 'Janganlah
kalian meminta datangnya ayat-ayat (mukjizat). Kaum
Shalih telah memintanya, maka ia (unta) datang dari
jalan ini dan pergi dari jalan ini. Lalu mereka melanggar
perkara Tuhan mereka dan menyembelihnya. Unta itu
minum air mereka satu hari dan mereka minum air
susunya satu hari, lalu mereka menyembelihnya. Maka
mereka ditimpa oleh suara yang keras. Allah
membinasakan semua yang ada di kolong langit dari
mereka, kecuali satu orang yang berada di Haram'."
Mereka bertanya, "Siapa dia, ya Rasulullah?" Beliau
menjawab, "Dia adalah Abu Righal. Ketika dia keluar dari Haram, dia tertimpa seperti yang menimpa kaumnya."
Takhrij Hadits
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-
nya, 3/296. Ibnu Katsir setelah menyebutkannya
berkata, "Hadis ini di atas syarat Muslim, dan ia tidak
tertulis di salah satu dari enam kitab (Kutubus Sttah)."
Al-Bidayah wan Nihayah, 1/137.
Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Bazzar dan Thabrani dalam Ausath. Lafazhnya ada di dalam surat Hud. Dan Ahmad meriwayatkan hadis senada. Rawi-rawi
Ahmad adalah rawi-rawi hadis shahih." Majmauz Zawaid, 6/194.
Penjelasan Hadits
Allah Tabaraka wa Taala menceritakan kepada kita kisah Nabiyullah Shalih ‘Alayhi Salam dengan kaumnya, Tsamud. Kisah ini berisi peristiwa dan kejadian yang jelas lagi terperinci. Kisah ini tidak disinggung di Taurat, dan ahli kitab tidak mengetahui berita tentang Tsamud (kaum Nabi Shalih) dan 'Ad (kaum Nabi Hud). Padahal Al-Qur'an menyampaikan kepada kita bahwa Musa menyebutkan dua umat ini kepada kaumnya "Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelumkamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.
Telah datang Rasul-Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata, lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian)dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan
yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya'." (QS. Ibrahim: 8-9)
Seorang mukmin dari keluarga Fir'aun berkata, "Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku,
sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa
(bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang
bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad,
Tsamud." (QS. Ghafir: 30-31)
Buku-buku sunnah memberitakan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati kampung Tsamud yang bernama Hijr pada perjalanannyamenuju perang Tabuk. Beliau singgah bersama para sahabat di perkampungan mereka. Para sahabat mengambil air dari sumur-sumur di mana Tsamud mengambil air darinya. Dengan air itu mereka membuat adonan roti, sementara bejana telah disiapkan di atas api.
Wallahu 'alam bi shawab
Sumber: Maktabah Abu Salma Al Atsari
#30harimenulis
#hari5
#onedayonepost
Rabu, 17 Januari 2018
Wanita Suci Pilihan Nabi-bagian 2
Senin, 15 Januari 2018
Wanita Suci Pilihan Nabi-bagian 1
Kamis, 11 Januari 2018
Cara Rasulullah Membalas Keburukan
Kamis, 21 Desember 2017
Kisah Sifat Lupa Nabi Adam
PENGANTAR
Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek moyang, mengetahui
keadaan dan kondisi mereka. Di samping minimnya informasi yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir masa lalu yang dalam dengan kepastian. Lain urusannya dengan kedatangan wahyu Allah untuk membawa berita orang-orang terdahulu. Hal itu merupakan kekayaan tak ternilai harganya, karena ia
menyuguhkan sesuatu yang nyata dalam keadaan bersih
dan murni. Ia adalah ilmu yang diturunkan dari Dzat
yang Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui, di mana
tidak sesuatu pun di langit dan di bumi yang samar dari-Nya. Sebagian ilmu ini tidak mungkin ditembus dengan jalan selain wahyu. Di antaranya, sebagian berita tentangbapak kita, Adam ‘Alayhi Salam, tentang sebagian tabiat dan ciri-cirinya yang kita warisi darinya. Sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita sebagian syariat untuknya dan untuk anak cucu sesudahnya.
Nash Hadis
Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu
Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Manakala Allah menciptakan Adam,
Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing-
masing orang kilauan cahaya. Kemudian mereka
di hadapkan kepada Adam. Adam berkata, 'Ya Rabbi,
siapa mereka?' Allah menjawab, 'Mereka adalah anak cucumu." Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi siapa ini?’
Allah menjawab, ’Ini adalah laki-laki dari kalangan umat
terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.’ Adambertanya, ’Ya Rabbi, berapa Engkau beri dia umur?’ Allah menjawab, ’Enam puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh tahun.’ Manakala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat maut. Adam berkata, ’Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?’ Malaikat menjawab, ’Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
Salam bersabda, ’Adam mengingkari, maka anak
cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka
anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah,
maka anak cucunya berbuat salah."
Abu Isa berkata, "Ini adalah hadis hasan shahih. Ia telah
diriwayatkan tidak dari satu jalan dari Abu Hurairah dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."
Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah yang
berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda, "Ketika Allah menciptakan Adam dan
meniupkan ruh padanya, dia bersin, dia berkata
'Alhamdulillah', dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka Tuhannya berfirman kepadanya, 'Semoga Allah
merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para Malaikat itu, sebagian mereka yang sedang duduk.
Katakanlah 'Assalamu'alaikum'. Mereka menjawab, 'Wa alaikas salamu warahmatihi'. Lalu Adam kembali kepada
Tuhannya, dan Dia berfirman, 'Sesungguhnya itu adalah
penghormatanmu dan penghormatan anak-anakmu di antara mereka.’
Lalu Allah berfirman kepada Adam, sementara kedua
tangan-Nya mengepal, ’Pilih satu dari keduanya yang
kamu kehendaki.’ Adam menjawab, ’Aku memilih
tangan kanan Tuhanku dan kedua tangan Tuhanku
adalah kanan yang penuh berkah.’ Kemudian Allah
membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi, siapa
mereka?’ Allah menjawab, ’Mereka adalah anak
cucumu.’ Ternyata umur semua manusia telah tertulisdi antara kedua matanya. Di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang paling cerah cahayanya atau termasuk yang paling terang cahayanya. Adam bertanya,
’Ya Rabbi, siapa ini?’ Allah menjawab, ’Ini adalah
anakmu Dawud dan Aku telah menulis umurnya empat puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan umurnya.’ Allah berfirman, ’Itu yang telah Aku tuliskan untuknya.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, aku memberikan umurku enam puluh tahun kepadanya.’ Allah berfirman, ’Itu urusanmu.’
Nabi SAW bersabda, "Lalu Adam diminta tinggal di Surga sekehendak Allah, kemudian dia diturunkan darinya. Maka Adam menghitung sendiri umurnya. Manakala Malaikat maut datang, Adam berkata kepadanya, 'Kamu
telah tergesa-gesa. Aku telah diberi umur seribu tahun.’
Malaikat menjawab, ’Tidak, tetapi kamu telah
memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.’ Lalu Adam mengingkari, maka anak cucunya mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Diaberkata, ’Sejak saat itu diperintahkan untuk menulis dan saksi-saksi."
Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadis hasan gharib dari
jalan ini. Ia telah diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya
dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Al-A'raf, 4/267. Lihat
Shahih Sunan Tirmidzi, 3/52, no. 3282.
Hadis kedua diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Kitab
Tafsir, bab dari surat Muawwidzatain, 4/453. Lihat
Shahih Sunan Tirmidzi, 3/137, no. 3607.
Penjelasan Hadis
Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna dan lengkap. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak berilmu, bahwa manusia berevolusi dari hewan atau tumbuhan. Allah menciptakannya dari saat pertama dia diciptakan
sebagai seorang yang berakal dan berbicara, dia
memahami apa yang dikatakan kepadanya dan dia menjawab dengan benar.
Setelah ruh ditiupkan kepadanya, Adam bersin maka dia memuji Allah Azza wa Jalla. Allah menjawabnya, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam." Allah memerintahkan Adam agar pergi ke sekumpulan Malaikat yang sedang duduk dan mengucapkan salam kepada mereka. Para Malaikat pun membalas penghormatannya dengan penghormatan yang lebih baik. Dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah
penghormatannya dan penghormatan di antara anak cucunya. Adam berjalan, mendengar, berbicara, bersin, mengerti dan memahami perkataan. Anda lihat dalam hadis, betapa besar perhatian Allah kepada hamba-Nya, Adam. Dia berfirman kepadanya
manakala dia bersin, "Semoga Allah merahmatimu,
wahai Adam." Dan barangsiapa dirahmati oleh Tuhannya, maka dia mendapatkan perhatian, perlindungan dan kemuliaan-Nya. Oleh karenanya, Allah menerima taubatnya manakala dia terpeleset dari jalan lurus kemudian Adam kembali kepada-Nya. Allah jugamemaafkan kelalaian kita dan mendukung kita dengan ruh dari-Nya.
Allah telah mensyariatkan untuk Adam ketika berada di Surga dan anak cucunya agar ber-tahmid jika bersin dan didoakan rahmat jika telah mengucapkan tahmid. Dan Allah telah menjadikan salam sebagai penghormatan anak cucu dan keturunan sesudahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan
kepada kita bahwa Allah mengusap punggung Adam,
maka berjatuhanlah semua jiwa dari anak cucu Adam
yang akan diciptakan darinya sampai hari Kiamat. Allah
memegang itu dengan Tangan kanan-Nya dan Adam diberi pilihan antara kedua genggaman Tuhannya, maka dia memilih Tangan kanan Tuhannya dan kedua Tangan Allah adalah kanan yang penuh berkah. Manakala Allah membukanya, ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya.
Adam melihat anak cucunya yang akan diciptakan
sesudahnya dan Allah telah menjadikan cahaya di antara kedua mata masing-masing. Adam juga melihat umur
masing-masing telah tertulis di antara kedua mata
mereka. Adam melihat seorang laki-laki dengan cahaya yang bagus. Dia bertanya tentangnya. Maka Allah memberitahukan bahwa dia adalah salah satu putranyayang akan muncul di sebuah umat sebagai salah satu umat terakhir. Putra itu bernama Dawud, yang diberiumur enam puluh tahun (dalam riwayat lain, empat puluh). Riwayat pertama lebih shahih. Adam merasa umur Dawud pendek, dia pun memohon kepada Allah agar menambah umur Dawud. Allah menyatakan bahwa
itulah umur yang ditetapkan untuk Dawud. Lalu Adam
memberikan sebagian umurnya kepada Dawud untuk menggenapinya menjadi seratus.
Nampak dari hadis tersebut bahwa Allah memberitahu
Adam tentang umur yang ditulis untuknya, bahwa dia
akan hidup seribu tahun. Manakala umurnya telah
mencapai seribu tahun kurang empat puluh, Malaikat maut datang kepada Adam untuk mencabut nyawanya.
Adam pun menyangkal keinginan Malaikat maut. Dia membantah Malaikat yang hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya tiba. Nampak pula dari hadis tersebut bahwa Adam menghitung sendiri umurnya tahun demi tahun. Maka Adam mengingkarinya karena lupa. Dan anak cucu Adam mewarisi sifat-sifat bapak mereka.
Mereka mengingkari seperti Adam mengingkari. Mereka
lupa seperti Adam lupa. Oleh karena itu, Allah
memerintahkan penulisan dan kesaksian untuk
mengantisipasi pengingkaran orang-orang yang ingkar
dan kelupaan orang-orang yang lupa.
Pelajaran yang terkandung
1. Allah menciptakan Adam secara lengkap dan
sempurna sejak awal penciptaannya. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sesat, bahwa Adam
diciptakan tidak sempurna, kemudian berkembang
menuju kesempurnaan dalam rentang waktu yang
panjang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
telah menyampaikan kepada kita bahwa di antara
kesempurnaan penciptaan Adam, adalah
diciptakannya dia dengan tinggi enam puluh hasta di
langit dan bahwa manusia setelah Adam terus
menerus menyusut sampai pada ukuran manusia saat
ini. Pada hari Kiamat Allah memasukkan orang-orang
mukmin ke Surga dengan bentuk penciptaan yang
sempurna seperti penciptaan Allah terhadap Adam.
2. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih
masing-masing bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Allah menciptakan Adam dan
tingginya adalah enam puluh hasta, kemudian Allah
berfirman kepadanya, 'Pergilah, ucapkan salam
kepada para Malaikat itu. Dengarkanlah
penghormatan mereka kepadamu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu.’
Maka Adam berkata, 'Assalamu'alaikum.’ Mereka
menjawab, 'Assalamu 'alaika wa rahmatullah dengan
tambahan 'Warahmatullah'. Dan semua orang yang
masuk Surga dengan bentuk penciptaan Adam. Dan
manusia terus menerus menyusut sampai saat ini.'4#
3. Kebenaran yang aku sebutkan di atas, bahwa Adam diciptakan secara sempurna sejak dihembuskannya ruh kepadanya ditunjukkan oleh hadis tersebut. Allah
menciptakan Adam dalam bentuk penciptaan yang
sempurna. Dia tidak berkembang dan tidak berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu
ciptaan ke ciptaan yang lain. Lain halnya dengan
anak cucunya, Allah menciptakan mereka di dalam rahim ibu dalam bentuk setetes air, kemudian segumpal darah, kemudian seonggok daging, kemudian setelah dihembuskannya ruh, Dia menumbuhkannya sebagai makhluk lain.
=======================
4# Diriwayatkan oleh Bukhari, 3/11, no. 6277, 6/332, no. 3326. Diriwayatkan
oleh Muslim, 4/2183, no. 2841.
=======================
4. Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
bapak kita, Adam, di antaranya adalah bersinnya
Adam, ucapan ’alhamdulillah’, jawaban Allah kepadanya (رحمك الله ) salamnya kepada para
Malaikat, juga jawaban Malaikat kepadanya. Allah
mengusap punggungnya dan peristiwa-peristiwa lain
yang dikandung oleh hadis ini.
5. Orang yang bersin mengucapkan hamdalah. Orang yang mendengarnya mengucapkan, "رحمك الله"
penghormatan salam termasuk syariat alami
(internasional) yang dimiliki oleh seluruh syariat,
tidak khusus untuk satu umat tertentu dan itu
termasuk warisan bapak mereka, Adam ‘Alayhi
Salam.
6. Penetapan takdir. Allah mengetahui hamba-hamba-
Nya pada masa azali dan Dia menulis hal itu di sisi-
Nya. Dia menunjukkan kepada Adam tentang anak
cucunya sesudahnya, dan umur setiap orang telah
ditulis di antara kedua matanya.
7. Penetapan dua tangan bagi Allah dan Dia menggenggam keduanya, kapan Dia berkehendak dan bagaimana Dia berkehendak tanpa takyif (bertanya
bagaimana) dan ta'thil (mengingkari). Tiada sesuatu pun yang menyerupai Dia. Dia Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.
8. Keutamaan Nabiyullah Dawud dan besarnya iman
yang dimilikinya dibuktikan dengan kuatnya cahaya
di antara kedua matanya.
9. Kemampuan Adam berhitung. Dia menghitung tahun-tahun umurnya. Dia mengetahui umurnya yang telah berlalu dan yang tersisa. Dia membantah Malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya sempurna.
10. Keterangan tentang umur Adam. Dia hidup seribu
tahun. Ini merupakan pelurusan terhadap keterangan Taurat, yang disebutkan di dalam Ishah kelima buku penciptaan bahwa umurnya adalah 930 tahun. Yang benar adalah yang disebutkan oleh hadis. Hadis ini juga menjelaskan umur Dawud.
11. Tabiat Adam dan anak cucunya adalah pengingkaran dan kelupaan.
12. Disyariatkannya menulis dalam akad dan muamalat
untuk mengantisipasi pengingkaran dan sifat lupa
manusia.
Wallaahu 'alam bi shawab
Sumber : Maktabah Abu Salma Al Atsari
Jumat, 10 November 2017
Musa Masih Manusia
Ubay menjawab, "Ya, Aku telah mendengar Nabi
menyinggungnya. Beliau bersabda, 'Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh seorang laki-laki. Dia berkata, 'Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak.’ Maka Allah mewahyukan kepada
Musa, ’Ada, yaitu hamba Kami bernama Khidhir.’ MakaMusa bertanya bagaimana menemuinya. Allah memberinya satu tanda, yaitu seekor ikan. Dikatakankepada Musa, ’Jika kamu kehilangan ikan, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.’ Musa pun menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkatakepadanya, 'Tahukah kami ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupamenceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (QS. Al-Kahfi: 63). "Musa menjawab, 'Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula." (QS. Al-Kahfi: 64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah diceritakan Allah dalam Kitab-Nya.
.
.
.
Suatu hari Nabi Musa alaihis salam berpidato di hadapan Bani Israil. Nabi Musa
menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan
membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhidengan rasa takut dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai banyak ilmu.
Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung terkagum-kagum, mereka dengan apa yang mereka dengar. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh
seorang laki-laki yang meninggalkan tempat
perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Musa,
"Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim
darimu?" Musa menjawab, "Tidak."
Musa adalah salah seorang Rasul yang agung. Dia
termasuk dari lima Rasul Ulul Azmi. Musa menempati di
urutan ketiga di antara para Nabi dan Rasul. Ibrahim
berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan
pertama. Musa adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, berapa pun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, "Wallahu a'lam."
Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah.Allah mencela Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Dia mewahyukan kepadanya, "Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hambadi tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki." Manakala Musa menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut
untuk menimba ilmu darinya.
Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah memerintahkan Musa
supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan
menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah
menghidupkan ikan itu.
Musa berjalan dengan seorang
pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut. Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Musa berbaring di balik batu untuk beristirahat
dari letihnya perjalanan. Di sinilah ikan itu bergerak-
gerak di dalam keranjang. Dengan takdir Allah ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas.
Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah
menahan laju air dari ikan tersebut. Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Musa karena dia sedang tidur.
Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan
tersebut kepada Musa. Pemuda itu belum teringat
kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada
hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.
Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah
tiba, Musa meminta pemuda itu untuk menghidangkan
makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan
pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan
perkara ikan tersebut kepada Musa. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu barulah
kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Musa dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejaksemula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batutempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Musa berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanahyang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.
Musa langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum."
Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh
karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat anehmendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di bumiku." Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan diri
sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia
datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang
berguna darinya. Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Musa kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup denganapa yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?" Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga
mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang
tidak Allah ajarkan kepadaku."
Musa meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, "Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku." Musa pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba shalih itu
mensyaratkan atas Musa agar tidak bertanya tentang
sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan
menerangkannya. Musa dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak
menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan
perahu kecil yang akan menyeberangkan para
penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang
mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberangsecara gratis. Musa dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali,
maka hamba shalih berkata kepada Musa, "Demi Allah,
ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut." Ketika keduanya berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa
akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari.
Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat
jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa
kepadanya, "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang
akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?
Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan
besar." (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu
mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan
sabar bersama denganku." (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Musa yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah.
Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan menyembelihnya,
memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yangdiputuskannya. "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar." (QS. Al-Kahfi: 74)
Pengingkaran Musa dijawab oleh hamba shalih itu
dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar
bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)
Di sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang
sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai
laki-laki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat
perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Musa. Musa dengan jiwa
kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa
menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak
terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang
anak adalah sesuatu kejahatan.
Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Musa dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.
Di sini Musa memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka. Seandainya Musa bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya.
Wallahu alam bi shawab
Sumber: Maktabah Abu Salma al-Atsari
Jumat, 03 November 2017
Kisah Kasih Khalil
Minggu, 08 Oktober 2017
Putri Sulung
Kali ini Saya ingin berbagi sedikit tentang keteladanan dari seorang putri sulung Rasulullah Shallaallahu alaihi wasallam, dia adalah Zainab Radiyallahu anha.
