6102016
Unik !
Iya kan...?
Untukku sih iya!
Apalagi pesan tersirat dibalik perjalanan hidupku setengah hari ini, terlalu unik untuk dirangkai dengan kata-kata hingga tak mampu terketik!.
Haha... emang dasarnya ga bisa ngetik , tapi demi tugas ODOP Batch 3 aku akan mencoba mengungkapnya melalui tulisan.
***
Kuawali hari ini dengan kegagalan misi akhirat yang bertubi-tubi, mulai dari bangun tidur yang terlampau siang hingga batalnya rutinan kamis hanya karena tergiur segarnya seteguk air putih. Astaghfirulloh .
Namun sedari pagi, benakku merasakan kegembiraan yang tak biasanya, entah karena apa, pokok bawaannya senang mulu.
Mungkin karena tersugesti beberapa kawan yang memberikan kabar kalau sedang mengadakan perjalanan ke taman safari, jadi teringat bagaimana serunya pengalaman pertama bisa menapakkan kaki disana. Apalagi bersama para pandu yang sangat heboh itu. (Insya Alloh lain kali bakal kuceritakan siapa para pandu itu).
Perasaan gembira itu terus menghiasi kegiatan rutin hari ini, entah orang disekitarku turut merasakan atau tidak yang pasti rasa itu terus mengiringi hingga saat aku menuangkannya sekarang!.
Alhamdulillah ya Rabb, hamba masih diberikan nikmat hidup sampai dengan detik ini sehingga bisa merasakan bagaimana warna warni rasa kehidupan.
Namun, tak berselang lama rasa gembira itu seketika berubah menjadi rasa was-was ketika tak disangka aku mendapati prosesi penguburan jenazah saat perjalanan silaturahim.
Bagaimana nantinya jika yang dimasukkan ke liang lahat itu adalah jasad busukku, masih adakah para manusia sholeh yang sudi menguburkannya, atau mungkin jasad ini nantinya tak mendapat kesempatan untuk terkubur , karena banyaknya dosa yang kulakukan. Naudzubillah.
***
Setibanya di rumah saudara baruku, perasaan was-was yang masih menghantui itu sekarang ditemani oleh perasaan lain yang kukira itu rasa gembira yang berusaha muncul lagi.
Iya, disana aku secara kebetulan telah dipertemukan dengan orang-orang sukses yang , keluarga mereka pernah terkenal setingkat provinsi disebabkan keberhasilan mereka menjaga kekompakan desa untuk membuat lingkungan menjadi ijo royo-royo.
"Kami berhasil menerapkan sistem tanaman hidroponik hingga berhasil mendapatkan juara pertama perlombaan tanam setingkat provinsi " terang seorang saudara baru itu.
"Sebenarnya kami didaulat juga untuk mengikuti kejuaraan tingkat nasional, namun kami kapok mengikuti event serupa, sebab apa?, susah duka kami rasakan selama perawatan tanaman, namun giliran kami berhasil meraih kemenangan, jangankan ganti rugi, barang selembar sertifikat saja tak kami terima. Semua itu katanya tersimpan rapi dan teralokasi untuk pemerintah daerah.
Saat mendengar kesah tersebut, perasaan was-was yang sedari tadi mengikutiku berubah menjadi perasaan miris akan uniknya sistem yang diberlakukan di tempat ku terduduk saat ini.
Disini aku turut memikirkan bagaimana jika nanti kami dan para generasi penerus kelak lebih memilih rasa kapok daripada masih harus bersusah payah menunjukkan kehebatan kami sebab tak ada balas budi yang bisa kami terima sebagai bentuk terimakasih negeri ini. Entah kepada siapa aku harus ikut mengadukan ini semua , hanya Alloh yang maha mengetahui segalanya.
Salam fastabiqul khairat!
***
6 Muharram 1438 H.
#OneDayOnePost

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat