Hari pertamaku
Bismillah
Ini adalah hari pertamaku menuliskan kenangan terindah sebagai tugas setoran anggota ODOP Batch 3, kuawali kenanganku dari masa kecil yang tak punya dosa.
------------------------------------------------------------------------
Hari Pertamaku
"Ayo mbak, lekas matikan televisinya, hari ini jadi ke tempat kemarin lagi bukan?" ujar ibu padaku.
"Beneran buk?, horee... !" teriakku kegirangan.
Ya... Masih tersimpan indah di ingatanku ajakan ibu 15 tahun silam. Saat ibu mengajakku ke suatu tempat baru yang agak jauh dari rumahku, tempat itu penuh oleh anak-anak seumuranku bersama ibu mereka masing-masing , yang baru kupaham kegunaan tempat itu dua tahun kemudian.
Itulah hari pertamaku diantarkan bermain di taman kanak-kanak.
Betapa senang hati ini kala itu , setelah sekian lama merasa iri sebab dipamerin baju-baju baru yang motifnya sama oleh tetangga-tetanggaku , diiming-imingi permainan seru daripada permainan yang kami lakukan selama ini, diceritain teman baru yang lebih asyik dariku, mereka bilang itu semua bisa didapat jika aku bersekolah. Saat itu aku ga begitu paham bagaimana sekolah itu, apa saja yang dilakukan disana sampai membuat teman bermainku bersedia diantar pergi pagi dan kembali pulang di siang hari . Padahal bermain di halaman rumahku itu mengasyikkan.
"Buk, arek-arek nandi kabeh yo?"tanyaku penasaran pada ibu.
"Koncomu sekolah kabeh nduk!. Sampean sesuk sekolah pisan yo nduk, ben akeh konco ne maneh."jawab ibu menjelaskan.
"Ngapain buk sekolah iku?" Tanyaku heran.
"Wis, pokok e sampean sesuk pasti seneng!"Tukas ibu.
Semalaman aku memikirkan kata-kata ibuku pagi itu, aku tanyakan lagi berkali-kali, ngapain sekolah itu, tapi tetap saja ibu hanya menjawab kalau aku bakal menyukainya.
Esoknya, aku diantar ibu ke suatu tempat dengan dibonceng sepeda. Selama perjalanan, ibu menjelaskan kalau aku akan diantar sekolah , ayah sudah memilihkanku sekolah itu sebelumnya.
Sontak ku tanya lagi apa itu sekolah, nanti ngapain saja disana dan segala macam pertanyaan keheranan. Dengan tenang ibu menjawab kalau sekolah itu tempat untuk belajar menjadi orang pintar, nanti disana kita diajari menulis yang bagus, membaca yang jelas dan juga diajak melakukan berbagai permainan seru oleh seseorang yang dipanggil guru , lagi-lagi pokoknya aku pasti senang .
Setelah sampai di tempat tersebut tak lupa ibu membacakan papan nama yang ada.
"Wis sampe nduk, sampean bakale sekolah ndek RA Al Wildan iki," terang ibu.
Nanti ibu tanyakan dulu apa kamu boleh bergabung disini secepatnya atau menunggu tahun depan, mengingat ini sudah memasuki akhir tahun pelajaran. Aku yang masih kebingungan dengan keterangan ibu hanya manggut-manggut saja.
Setelah memarkir sepeda, aku diantar ibu menuju ayunan, "nduk tunggu disini yah, ibuk tak masuk kesana dulu ( sambil menunjuk suatu ruangan yang terdengar begitu ramai oleh teriakan anak-anak seumuran ku)."
Itulah kali pertama aku bermain ayunan , akibat nya aku tak menghiraukan perkataan ibu padaku.
Setelah berayun-ayun agak lama, ibuku keluar dari ruangan itu namun sambil bercakap-cakap dengan seorang ibu berkerudung yang kelihatannya lebih tua dari ibuku.
"Anak cantik, besok datang kesini lagi yah , bu guru tunggu disini!" sapanya ramah. Aku yang tidak mengenal orang tersebut langsung lari memeluk kaki ibu karena takut . " gapapa nduk, ini ibu guru mu nanti, ayo bersalaman dulu!" pinta ibuku.
Dengan perasaan malu, aku memberanikan diri menyalaminya. Setelah pamit pada wanita itu , ibuku menggandengku menaiki sepeda, kami kembali pulang.
Selama perjalanan, ibuku sempat bercerita kalau besok aku akan diajaknya kesana lagi tapi harus pakai sepatu dan tas yang ternyata sudah dipersiapkannya di rumah. Lagi-lagi aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
Keesokan harinya, saat membangunkan tidurku, ibu mengingatkanku lagi kalau mulai hari ini aku akan diantar sekolah setiap pagi kecuali hari jum'at , jadi aku harus belajar bangun lebih pagi.
Setelah mandi, ibu membantuku menggenakan baju yang baru diambilnya dari penjahit tiga hari sebelumnya, sambil menyisir rambutku ibu menasehati supaya aku nanti patuh pada ibu guru kemarin selama berada di sekolah, nanti ibu akan mengawasiku dari kejauhan. Dengan dibonceng sepeda aku diantarkannya ke sekolah itu lagi.
Sesampainya disana , aku disambut oleh seorang ibu guru lain yang langsung mengajakku menghampiri ibu guru yang kemarin, guru itu sedang berkumpul dengan anak-anak seumuran ku, sementara ibuku kembali masuk ke ruangan yang sama dengan kemarin.
"Assalamu'alaikum anak cantik, ayuk langsung ikutan bermain sama ibu dan teman-teman barumu yah, kita sudah akan memulai permainan"ajak guru itu.
Ibu guru tersebut kemudian menyanyikan sebuah lagu yang baru kudengar pada hari itu :
" Naik kereta api tut...tut...tut, siapa hendak turut.... ke Bandung-Surabaya, bolehlah naik dengan percuma, ayoo kawanku lekas naik keretaku tak berhenti lama...."
Ya... mereka ternyata akan memulai permainan kereta api, aku yang baru datang langsung dimasukkan ke tengah barisan anak-anak yang masing-masing memegangi bahu anak di depan nya, karena masih takut bercampur malu aku kurang menikmati permainan tersebut apalagi ibu tak terlihat olehku.
Setelah permainan selesai, aku diajak masuk ruangan yang tadi dimasuki oleh ibu,ternyata ibuku masih ada di dalam sana. Ketika melihatku memasuki ruangan, ibu langsung menyuruhku agar menduduki tempat yang baru saja diduduki olehnya. Tempat duduk itu ada di barisan depan, kata ibu aku nantinya harus tetap duduk disana agar lebih mudah mendengarkan penjelasan ibu guru. Setelah para ibu meninggalkan anaknya , para ibu guru memasuki ruangan dan kemudian mengajak bertepuk-tepuk sebelum mereka mengajak aku dan anak-anak sebaya ku berdo'a.
Ternyata , ibu guru tersebut tak lupa memperkenalkanku kepada anak-anak itu yang nantinya akan menjadi temanku di tempat itu.
Lumayan lama kami diajak bernyanyi bersama oleh sang ibu guru , aku yang masih asing dengan ruangan dan orang-orang yang berada di dalamnya tidak terlalu menikmati lagu tersebut, dalam pikiranku hanya satu : ibukku kemana?
Setelah terdengar bunyi lonceng, kami diizinkan bermain diluar , kata ibu guru itu namanya istirahat .
Ibuku yang melihat dari jendela langsung memanggilku agar segera keluar.
Sesampainya di luar, aku diizinkannya bermain ayunan lagi, namun karena takut , aku mengajaknya ikut bermain, tapi ibuku tetap teguh pada pilihannya, beliau memberi pilihan : mau tetap bermain ayunan atau diantarkan pulang. Karena aku sangat ingin bermain ayunan jadi aku memberanikan diri menuju ayunan sendiri.
Sesampainya di tempat ayunan , para teman baru itu sedang ramai sekali bergantian bermain, aku yang tidak mengenal mereka hanya bisa menonton asyiknya permainan mereka. Setelah agak sepi, aku memberanikan diri duduk di ayunan tersebut , namun tanpa disangka ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba memarahiku .
" Eeh... wayahku saiki!"bentak anak itu sambil berkacak pinggang. Aku yang sudah terlanjur duduk di ayunan tetap saja tidak mau pindah.
Ibuku yang mungkin mengawasiku dari jauh langsung menghampiri kami dan memintaku agar mengalah terlebih dahulu. Aku menurutinya.
Lonceng pun berbunyi menandakan kami harus kembali ke ruangan tadi untuk bernyanyi lagi dan kemudian membaca doa sebelum pulang.
Setelah mengucapkan salam, ibu guru memanggil nama kami satu persatu dan mengarahkan kami agar bersalaman dulu dengan mereka.
Sesampainya di rumah, aku tak henti-hentinya bersenandung tut...tut...tut siapa hendak turut karena saking sukanya mendengar pertama kali lagu tersebut.
Mendengar aku bersenandung, ibu kemudian menghampiriku dan menanyakan apa saja yang aku lakukan selama di sekolah tadi.
Aku ceritakan apa saja yang aku ingat dan tak lupa kusenandungkan lagu tut...tut..tut.
* * *
Alhamdulillah , aku memiliki ibu yang pengertian, mau susah payah mengantar sekaligus menemaniku di hari pertamaku bermain di sekolah, seandainya ibuku dulu hanya mau mengantar saja tanpa mau menemaniku mungkin sekarang aku tak memiliki kenangan indah di hari pertamaku merasakan suka dukanya duduk di bangku sekolah.
Mungkin masih ada sekarang, anak-anak baik itu taman bermain maupun jenjang diatasnya yang hari pertama sekolah nya hanya diantar oleh nenek, bibi, maupun pembantu dan kemudian dititipkan begitu saja kepada guru disana dikarenakan orang tua kandung mereka sibuk bekerja entah untuk siapa. Coba bayangkan bagaimana perasaan nelongso mereka, dan kelak bisa jadi jika mereka besar bukan kenangan terindah yang mereka tuliskan namun sebaliknya. Kedengarannya sepele, tapi itu sangat berarti untuk buah hati kita.
Semoga kita selalu bisa memberikan perhatian yang terbaik bagi anak-anak kita khususnya dimasa emas mereka. Semoga ada maaf bagi kita yang sudah terlanjur melewatkan masa emas anak-anak kita karena anak adalah amanat yang bakal dimintai pertanggung jawaban nantinya.
Salam fastabiqul khairat !

17 komentar
Wah...
REPLYIndahnya masa2 itu, kalau aku di hari pertama tidak diantar sama sekali, iri sebenarnya sama teman-teman yang lain
Thank atas inspirasinya y mbak...
Terkait teknis Penulisan:
Coba dicek kembali penggunaan "-Ku", apakah perlu dalam satu kalimat banyak menggunakan "-Ku"? Hilangkan beberapa, maka kalimat bisa menjadi lebih Bernas.
Contoh:
"Setelah berayun-ayun agak lama, ibuku keluar dari ruangan itu namun sambil bercakap-cakap dengan seorang ibu berkerudung yang kelihatannya lebih tua dari ibuku."
Ibuku-> lebih baik jadi "ibu" saja
orang pasti sudah tahu, bahwa ibu yang diceritakan adalah "ibuku"
Xixixi, sok tau, maaf kalau kurang berkenan
(Langsung praktikin hasil workshop Penulisan kemarin)
Masa kecil yg indah akan terpatri kuat sepanjang masa.
REPLYNice post :)
Wah sudah panjang Kali nulisnya
REPLYKeren
Wah sudah panjang Kali nulisnya
REPLYKeren
wah, masih ingat saja kejadian Masih kecil. aku aja lupa tuh hari pertama ke sekolah. mungkin masih ingat pas naik ayunan. mau ada anak lain yang maksa turun Dari ayunan, aku ga mau turun
REPLYKenangan yang manis ka ^^ da aku aja lupa hari pertama masuk tk.
REPLYKenangan yang manis ka ^^ da aku aja lupa hari pertama masuk tk.
REPLYMba zeela keren ya masih ingat masa kecilnya. Saya malah sudah sulit mengingat masa kecil saya. Hiks...
REPLYMaturnuwun sudah menyempatkan diri meninggalkan jejak ilmu disini :)
REPLYMantaaab... tulisannya mbak zila enak dibacanya.
REPLYItulah ayunan sang mainan legendaris ;)
REPLYwah..mbak suka deh bacanya.
REPLYjadi keinget dulu waktu masih TK aku sering ngerebut ayunan yang di pake temenku, hehe.. terus kalo make ayunan sambil berdiri-diri biar tambah kenceng ayunannya.
beda sama mbak,, mbak seneng kalo ditemeni ibunya, sedangkan aku untung nggak ada ibu.. hihii..
Ngalir, enak dibaca.
REPLYPasti mbk zeela org Jawa
jadi terharu, sya blm pernah merasaka diantar sekolah sama orang tua ....
REPLYsip
REPLYWah pantes aja kalau sampe 3,5 jam nulisnya mba, panjang banget soalnya.. hehe
REPLYKerennn euy, ceritanya mengalir banget. Great (y)
Subhanallah pesannya bagus...keren udah panjang gitu mbak...
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat