Diriku Saat Mati
Aku tak bisa memilih lahir dimana, dalam kondisi seperti apa, dari keluarga yang mana. Tapi Aku bisa memilih ingin diingat sebagai apa dan siapa saat mati.
Subhanallah.
Subhanallah.
Seseorang akan dimatikan sesuai dengan kebiasaan hidupnya, itu peribahasa yang Aku tahu. Artinya, apa yang paling sering kulakukan dalam hidup, itulah nilai kematianku.
Bilamana sebagian besar hidup kuhabiskan untuk mengajar, maka insyaallah Aku akan dikenal sebagai guru saat mati nanti. Bila kuhabiskan waktu untuk bermain, Aku akan mati sebagai seorang gamers. Naudzubillahimin dzalik.
Maka silakan perhatikan saja, apa yang paling sering kulakukan semasa hidup?.
Apa yang paling sering kuucapkan, atau apa yang terus kuperjuangkan di sebagian besar waktu kehidupan?
Apa yang paling sering kuucapkan, atau apa yang terus kuperjuangkan di sebagian besar waktu kehidupan?
Boleh jadi orang menganggap diriku seorang usahawan, karena sehari-hari Aku lebih banyak berdagang, maka jangan heran bila Aku lebih diingat sebagai pedagang ketika tiba kematian.
Seharusnya seorang pengemban dakwah disibukkan lebih banyak oleh menyeru manusia pada Islam, bila tidak belajar, bila tidak mengajar, segala tentang kebaikan.
Sekarang kutanyakan pada diri, ingin seperti apa ingatan oranglain saat Aku sudah tidak lagi ada di dunia?
Apakah hanya diingat-ingat oleh oranglain saja yang aku inginkan? Apa Aku tidak ingin diingat oleh sang Uswatun Hasanah kelak?
Maka, sudah selayaknya Aku mempersiapkan diri mulai sekarang, terus menyibukkan diriku dengannya, hingga jelas bagaimana pandangan tentang diriku oleh orang lain, terutama oleh sang pemberi syafaat nanti.
Apakah hanya diingat-ingat oleh oranglain saja yang aku inginkan? Apa Aku tidak ingin diingat oleh sang Uswatun Hasanah kelak?
Maka, sudah selayaknya Aku mempersiapkan diri mulai sekarang, terus menyibukkan diriku dengannya, hingga jelas bagaimana pandangan tentang diriku oleh orang lain, terutama oleh sang pemberi syafaat nanti.
Dan inilah kekhawatiranku, bila. Aku mengaku Muslim, sementara lebih banyak menyebut dalil selain Islam, membelanya selain Islam, dan ridhanya juga pada selain Islam.
Bila itu yang terjadi, setelah Aku mati, maka wajar bila kelak ada orang bertanya-tanya, "ini orang Muslim atau bukan sih?", sebab tak ada warna Islam pada diriku.
Pertanyaan itu lebih menyakitkan, bila datang dari anak-anakku.
Aku terus berusaha memersiapkan diri, sebab labelku tergantung dari apa kesibukanku, dan dari apa yang paling kucinta.
Semoga Aku selalu menjalankan muhasabah ini
Wallahu 'alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat