Nursalim
Menulis merupakan rihlah jiwa baginya disela-sela bergiat
sebagai pengkhidmah kajian Majelis Jejak Nabi di beberapa kota, relawan sahabat
Al-Aqsha, pengasuh Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, serta anggota Majelis
Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
Sosok muda dan enerjik asal Kota Gudeg ini tidaklah asing dalam
kancah kepenulisan dalam negeri. Pria berbadan gagah yang murah senyum ini adalah salah satu manusia
yang patut dijadikan teladan di negeri ini karena cara dakwahnya yang santun.
Terlahir pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1404
Hijriyah, dai muda yang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Gajah Mada
ini merupakan sosok yang menebarluaskan dakwah keagamaannya di bidang tulisan.
Karya pertamanya yang beredar sekitar tahun 2004, Nikmatnya
Pacaran Setelah Pernikahan, merupakan salah satu buku yang hingga kini masih
terus dicetak ulang. Sedangkan karya terakhirnya yang ditulis
sendiri-Lapis-Lapis Keberkahan-langsung cetak ulang dalam hitungan hari.
Saat kecil beliau sudah mempunyai cita-cita mulia yaitu menjadi
orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Saat berada di bangku sekolah
menengah atas beliau sudah tersadar akan peran yang harus beliau ambil secara
spesifik kalau ingin betul-betul berguna. Dan ketika beliau amati —selain
kesibukan berorganisasi yang membuat beliau jarang menatap sinar matahari dari
rumah—salah satu yang luas jangkauan manfaatnya adalah menulis.
Dalam banyak kajiannya, ustadz yang bernama asli Nursalim
ini banyak menghadirkan tulisan-tulisan yang segar, inspiratif, dan
menggerakkan pembacanya terkait tema pernikahan, amal, dan sejarah Islam.
Selain santun dan kronologis hingga mudah dinikmati, pilihan diksi dai yang
sudah berkeliling nusantara dan luar negeri ini terbilang langka sehingga
menjadi daya gugah bagi pembaca maupun penyimak kajiannya.
Kenangan saat kelas lima sekolah dasar adalah salah satu
alasan yang membuatnya yakin untuk terus menulis. “Jika Allah berkenan
menjadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari beliau sebagai kebaikan, maka
kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak Bapak dan Ibu. Saya harus menyebut
beliau berdua jika kita berbincang tentang menulis.” Terangnya. Ketika itu,
sang ibunda membawanya ke sebuah toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya
tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak
lain. Karena sang ibunda ada kepentingan lain, beliau ditinggal sendiri di toko
buku dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru. Sekembalinya
sang ibunda hanya bisa geleng-geleng kepala, karena yang beliau beli adalah
buku-buku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak kelas lima. Beliau
justru belanja buku sejarah, biografi
tokoh, filsafat, dan psikologi. Seingat beliau, dari lisan Ibunda hanya keluar
kata, “Masyaallah!” Dan saat sampai di rumah, sang Ayahanda juga hanya tertawa-tawa.
Dari perjalanan menulis selama ini, menurutnya tidak ada
kendala berarti kecuali apa yang ada di dalam jiwa kita. Kendala menulis
letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita. Karena itu, semua
hal harus disyukuri. Alhamdulillah, menulis itu rasanya berkah. Dengan tulisan
beliau coba merekam jejak-jejak pemahaman ; mengikat ilmu, lalu melihatnya
kembali untuk—sesekali—menertawakannya. Beliau merasa begitu kaya karena banyak
saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik,
bahkan cerca, dan kecaman. Semuanya memperkaya jiwa; mereka menunjukkan
kelebihan maupun kekurangan diri yang takkan beliau sadari tanpa respon mereka.
Beliau adalah Ustadz Salim A. Fillah.


9 komentar
Nice story!
REPLYEnak ih dibacanya tulisanmu. Suka ... terima kasih ya ...
REPLYInilah gaya tulisan Zila yang saya suka
REPLYSubhanallah...
REPLYMasyaa Allah..salah satu favorit saya :)
REPLYMasyaa Allah..salah satu favorit saya :)
REPLYPenulis favorite saya juga 😊
REPLYPenulis favorite saya juga 😊
REPLYAlhamdulillaah, maturnuwun sedayanipun
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat