Seorang Teman Lama
Di
ruangan sempit berdinding merahmuda inilah Aku mengenang masa kanak-kanak dulu, karena
pejumpaan tadi pagi dengan seorang teman lama menyebabkan terlintas kenangan indah itu dalam lamunan secara tiba-tiba. Ibarat
pepatah sekali dayung dua tiga pulau
terlampaui, daripada hanya menjadi kenangan dalam hati, lebih baik kucoba
menuliskan kenangan ini, selain ingin menghibur diri kegiatan ini juga
kugunakan untuk melatih keterampilan menulis. Ditemani sebungkus roti selai
coklat kesukaanku, mulailah kurangkai kata demi kata agar menjadi barisan kalimat
cerita yang diharapkan dapat menyenangkan hati siapa saja yang membacanya. Aku
mulai tertarik untuk selalu menuliskan pengalaman hidup yang pernah
kualami sejak beberapa bulan yang lalu, dan untuk sementara ini, beginilah caraku
mengalihkan rasa gundah yang mengusik hari-hari mudaku.
.
.
.
Adzan
shubuh telah dikumandangkan sekitar setengah
jam yang lalu, namun tidak membuatku lekas beranjak dari tempat tidur, rasa
kantuk yang masih melekat kuat disertai hawa dingin yang terasa menusuk tulang
malah mengajakku untuk menarik selimut kembali. “Ah, nanti saja, pasti bunda
membangunkanku tepat waktu, toh adzan baru saja terdengar, masih ada banyak
waktu” gumamku sambil memejamkan mata lagi.
“Nduk,
Ayo bangun.... sudah siang ini, keburu habis waktu salat subuhnya, lagian apa
kamu tidak berangkat sekolah?” suara bunda membangunkanku. “Iya bunda sebentar”
jawabku lirih sambil merengek manja. Dengan rasa malas yang masih menguasai,
kuturunkan tubuh ini dari tempat tidur menuju kamar mandi. “Lekas mandi, air
hangatnya sudah bunda siapkan” terang ibu selanjutnya.
Setelah
mandi, Aku bergegas melakukan gerakan yang dinamakan salat, meskipun saat itu
sinar matahari sudah terlihat begitu terang. Dikemudian hari Aku baru
menyadari itulah cara orangtuaku mengajarkan salat kepada buah hati yang mereka
cinta, tanpa paksaan harus bangun dinihari.
Selesai
sarapan, Aku berpamitan untuk berangkat sekolah. Hari itu ayah yang mengantarkanku sekolah, karena ibu ingin
berangkat ke pasar di pagi hari, untuk mencari sayur yang masih segar katanya.
Sesampainya
di sekolah, Aku langsung berlari memasuki ruang kelas bercat hijau yang terletak di deretan paling pojok
bangunan sekolah, seingatku di depan ruang itu terpampang papan cokelat bercoretkan
dua garis tebal bewarna putih. Buru- buru kutaruh tas di bangku paling depan
sendiri kemudian lari keluar kelas untuk menemui teman- teman yang sedang seru
melakukan permainan petak umpet di halaman luas depan rumah tetangga sekolah.
Tiba-tiba,
terasa sebuah benda menimpuk bagian
belakang kepalaku. Sontak aku menangis dengan suara keras karena kesakitan. Teman-teman
yang mendengar tangisanku datang menghampiri untuk mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi. “Waduh celaka, kepalanya berdarah itu!”
teriak salah satu anak dari tengah kerumunan. Aku yang sempat mendengar
perkataan itu, mencoba memegang bagian yang terasa sakit dan mengecek apakah
benar kepalaku berdarah, dan ternyata kepalaku mengeluarkan darah meskipun
hanya sedikit. Sontak suara tangisanku bertambah keras, entah apa yang
kupikirkan saat itu, yang pasti Aku merasa takut terjadi apa-apa. “Tolong ada
yang memanggil bu guru yah” seorang kakak kelas mencoba membantuku. Ia mencoba
menuntunku menuju ruang kantor guru, “tenang yah, tidak apa-apa kok cuma luka
sedikit saja” terangnya.
Setelah
diobati oleh bu guru, Aku diantarkan pulang agar beristirahat, sepertinya bu
guru itu tahu kalau aku terlalu cemas. “ Hari ini mbak istirahat di rumah
dulu, besok tetap masuk kalau sudah tidak sakit yah” pesan singkat bu guru
sambil mengucapkan salam perpisahan.
Setelah
bu guru pulang, ayah langsung menanyakan apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai
Aku diantarkan pulang. “Apa yang kamu
lakukan toh nduk, kok sampai luka seperti ini” tanya ayah penasaran.
Akupun mencoba menceritakan kronologi kejadian hari itu, sambil sesekali
menahan isak tangis.
“ Ya
sudah, besok Ayah bantu mencari siapa yang telah melempari kepalamu itu, sudah
sana istirahat dulu” kata ayah menenangkan.
Keesokan
harinya, Aku diantar ke sekolah lagi oleh ayah, kali ini Aku diantar sampai di
halaman sekolah, ayahku mencoba menanyakan kepada teman-teman siapa sebenarnya
anak yang telah melempar batu sampai
terkena kepalaku.
Singkat
cerita, ternyata teman laki-laki sekelasku yang telah melempar batu itu, dia
mengaku tidak sengaja melempar batu itu sampai mengenai kepalaku. “ Maafkan Aku
tidak sengaja, kemarin Aku sedang bermain pecah piring saat kamu tiba-tiba lari
melintas disampingku” ucap temanku itu sambil menunduk ketakutan. “iya, Aku
maafkan” jawabku sambil menjabat tangannya. “Lain kali lebih berhati-hati lagi
ya saat bermain seperti itu” nasehat Ayahku kepada teman itu.
Sejak
kejadian tersebut, pertemananku dengannya semakin akrab daripada dengan teman
laki-laki yang lain, bahkan pernah sekali teman itu rela kehujanan karena
meminjamkan payung miliknya kepadaku. Tapi, keakraban ini tidak berlangsung
lama karena dia pindah sekolah beberapa bulan kemudian.
Semoga
kebaikanmu tetap terjaga wahai seseorang yang pernah menjadi teman lama.


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat