Tiga Nafsu Manusia
Lelaki itu gelisah. Ia khawatir, perubahan yang begitu cepat dalam
dirinya, membuatnya termasuk orang munafik. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radiyallahu
‘anhu yang sedang merasakan hal yang sama, ia menemui Rasulullah shallalaahu
alaihi wasallam.
“Ya Rasulullah, bila berada bersamamu kami selalu merasa dekat dengan
Allah dan nuansa akhirat, tapi begitu kami berpaling darimu dan bertemu dengan
anak istri kami, dunia seolah menarik kami dan sedikit demi sedikit kami jauh
dari akhirat. Apakah itu pertanda kami termasuk golongan orang munafik?.”
Demikian Handzalah, laki-laki itu, bertutur cemas.
Rasulullah tersenyum. Ia senang dengan ketulusan Handzalah yang mampu
mendeteksi kondisi jiwanya. Dengan kemampuan itu, Rasulullah yakin Handzalah
mampu menjaga jiwanya sehingga tak tergelincir dalam kemunafikan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan, berdasarkan sifatnya, jiwa manusia
memiliki tiga jenis:
Nafsul muthmainnah, jiwa
yang tunduk kepada Rabb-nya dan segala perintah-Nya. Ia tenang dalam beribadah
kepada-Nya, mencintai-Nya, meyakini janji-janji-Nya dan menerima segala
ketentuan-Nya. Orang dengan jiwa muthmainnah menemukan ketenangan hidup dan
aura ketenangan itu dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Nafsul lawwamah, adalah
jiwa yang menyesali segala kebaikan yang luput ia lakukan. Ia memiliki potensi
berbuat baik dan menyadarinya tapi sering luput melakukannya, dan tinggallah ia
menyesali kelalaiannya.
Nafsul ammarah, jiwa yang
selalu mengajak pada perbuatan buruk mengikuti hawa nafsu. Kepada kaum dengan
jiwa seperti inilah Rasulullah diutus.
Tak ada manusia yang berhasil memiliki nafsul muthmainnah tanpa usaha
dan kerja keras. Bahkan ketika jiwanya sudah berada dalam kondisi muthmainnah,
ia harus terus dijaga, karena begitu mudah jiwa berubah.
Para ulama menjelaskan, di antara cara menjaga jiwa agar stabil dalam
muthmainnah adalah menjalankan seluruh ibadah wajib, menjalankan
sebanyak-banyaknya ibadah nafilah, bergaul dengan orang-orang saleh, banyak
berzikir, banyak bertobat.
Tugas manusia bukan menghilangkan sifat fujur dalam dirinya—karena
tidak mungkin, melainkan mengelolanya sehingga ia muncul seminimal mungkin.
Begitu pula sifat takwa, dikelola hingga maksimal.
Memaksimalkan potensi takwa adalah jalan menuju tercapainya nafsul
muthmainnah. Setiap kita harus berusaha untuk meraihnya. Bukan hanya demi
ketenangan hidup di dunia, tapi lebih jauh dari itu, karena Allah menyeru nama
mereka begitu indah untuk kembali kepada-Nya, dengan penuh ridha dan jamuan
surga yang menanti. Wallahu a’lam bisshawwab.
“Wahai jiwa-jiwa yang muthmainnah, kembalilah kepada Rabb kalian
dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS Al-Fajr [89]: 26)
Wallahu ‘alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat