Membangun Kesiapan Belajar dengan Aktivitas Sederhana Kaya Makna
Bismillaah
Malam itu, di sebuah grup telegram dimana saya berkesempatan
menjadi anggota, sedang berlangsung diskusi tentang pendidikan yang lebih seru
dari biasanya. Para pendidik dari
berbagai penjuru negeri berkumpul disana untuk mengikuti diskusi rutin “Temu Pendidik
Mingguan” itu . Kenapa lebih seru? Sebab sang narasumber memberikan challenge
di awal sebagai pancingan diskusi.
Moderator : “Selamat
malam, selamat berjumpa kembali di Temu Pendidik Mingguan persembahan Komunitas
Guru Belajar Nusantara. Hallo Bapak Aye dipersilahkan untuk perkenalan terlebih
dahulu sebelum di sampaikan materinya.”
Narasumber : “Halo halo
semuanya. Selamat malam. Perkenalkan nama saya anggayudha Ananda rasa. Karena
terlalu panjang siakan panggil saja saya dengan sapaan 'Aye'. Saat ini saya
diberikan amanah untuk menjadi pendidik di ponpes ibad Ar Rahman (tingkat MTs
dan MA), Pandeglang Banten. Sejak tahun 2008 silam saya menggeluti bidang
pengajaran kimia, sesuai dg background pendidikan formal saya. Malam ini
izinkanlah saya belajar dari bapak-ibu semuanya tentang bagaimana caranya
membangun kesiapan belajar siswa.”
Moderator : “Baik
Selamat malam pak Aye. Dipersilakan untuk memaparkan materi mengenai ‘Membangun
kesiapan Belajar dengan aktivitas sederhana kaya makna’.”
Narasumber : “ ‘Krriiiiinggg....’
Bel tanda masuk ruang kelas berbunyi. Sebagian siswa tampak mulai memasuki
ruangan kelas masing-masing. Namun tak sedikit juga yang memutuskan untuk duduk
di teras depan kelas sambil menikmati kudapan bersama teman-temannya. Ada juga
yang masih asyik ngobrol diselingi tawa-tawa kecil di dalam ruang kelas.
Beberapa sibuk mengayunkan kipas sambil ikut nimbrung di tengah-tengah
kerumunan siswa yang sedang memainkan gawainya. ‘Pak Angga datang, pak angga
datang.’ Sergah siswa berambut cepak sambil berlari menuju ruang kelas diikuti
oleh beberapa temannya. Suasana kelas seketika menjadi riuh. Siswa yang sedang
makan segera menghabiskan makanannya. Yang membawa gawai segera mematikan
gawainya dan menyimpannya ke dalam saku. Namun beberapa siswa masih tampak di
luar ruangan dan berjalan dengan santai. ‘Assalamu'alaikum.’ Sapa pak angga
ketika memasuki ruang kelas. ‘Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.’
Jawab para siswa serentak, meskipun mereka belum kompak. Ada yang sudah duduk
di kursi, ada juga yang masih berlarian kesana kemari. Ada juga yang tiba-tiba
menghampiri Pak Angga sambil berbicara, ‘Pak, izin ke kamar mandi dulu. Hehe.’
‘Mau
ngapain kamu? Mandi?’,
‘Enggak pak... mau pipis. hehe...’
‘Kok ngga tadi aja pas istirahat?’
‘Baru kebelet pak. hehe...’
‘Ya udah, 5 menit lagi udah balik ke kelas ya.’
‘Siap. Makasih pak.’
Lalu siswa itu pun langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Pak
Angga berdiri sejenak di dekat papan tulis sambil mengamati kondisi kelas. Ada
beberapa kursi yang masih kosong. Beberapa siswa tampak masih nyemil , ada juga
yang minum. Ada yang sedang menyiapkan buku pelajaran. Di sudut kelas tampak
ada satu siswa yang masih membenamkan wajahnya di atas meja. Tampak teman
sebangkunya berusaha membangunkannya. Beberapa ada yang terlihat saling
melempar kertas, mencoba berlaku usil pada temannya yang tertidur.
Hari
itu Pak Angga akan mengampu mata pelajaran yang paling dibenci siswa kelas 12
SMA: kimia. Banyak teori, banyak ngitung, sedikit dipahami. Apalagi saat itu
waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Kondisinya para siswa baru selesai makan
siang. Suasana kelas pak Angga mengajar berdekatan degan sawah, langsung
menghadap gunung dan sering sekali angin semilir menerobos jendela kelas.
Kira-kira,
sebagai pendidik, langkah-langkah kongkrit apa yang akan Anda lakukan jika saat
itu Anda menjadi Pak Angga?.”
Moderator : “Selanjutnya
moderator akan membuka termin untuk tantangan. Acungkan tangan untuk menjawabnya.”
Peserta 1 : “Terima
kasih Pak Aye tantangannya. Menurut saya sederhananya karena melihat kondisi
kelas yang masih gaduh belum kondusif maka diperlukan tindakan guru menyiapkan
anak² utk belajar. Setelah semua dipersiapkan selanjutnya belajar bisa
dilakukan di luar kelas jika memungkinkan, supaya anak² tidak merasa bosan.
Kalau mereka kelas XII maka diperlukan ekstra motivasi oleh guru.”
Narasumber : “Terima kasih
atas pendapatnya. Saya setuju sekali dg yg disampaikan. Malah pendapat ini saya lakukan: belajarnya di luar kelas.
Beruntung lingkungan pondok sangat kondusif untuk melakukan aktivitas itu.”
Peserta 2 : “Kalau
saya akan coba mendengarkan anak. Mau apa sih mereka hari ini. Mau pembelajaran
kayak apa. Atau mau main dulu. Nunggu mereka siap. Kalau belum siap dipaksa belajar
menurut saya nggak bisa.”
Narasumber : “Hehehe...
Ngomong-ngomong soal dipaksa, saya pernah melakukan itu. Dan.... Prediksi Anda
sangat benar. Alih alih belajar, mereka malah tidur. Ada sih yang ga
tidur.umayan banyak juga yg ga tidur. Tapi mata mereka menahan kantuk.”
Peserta 3 : “Tanggapan
saya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peserta 2. Memang di jam-jam seperti
itu kita harus mengajak siswa untuk aktif belajar, karena itu guru perlu
mengajak siswa keluar dan membuat pembelajaran yang asyik serta aktif. Dan yaa
pak Aye lebih ahli membuat pembelajaran yg asyik hehe. Pembelajaran diluar pada
jam segitu yang biasa saya lakukan adalah mengajak mereka cuci muka,
berjalan-jalan di sawah, berkeliling lingkungan kampung, dll tapi sambil
belajar.”
Narasumber : “Terima kasih
atas tanggapannya. Memang betul seperti itu. Jam setelah makan siang itu
tantangannya besar sekali. Pernah pertama kali saya mengampu pelajaran di jam
siang, saya salah strategi. Saya malah mengajar seperti biasanya. Yang terjadi adalah
seperti yang saya sampaikan diatas. Mereka malah tidur dan ngantuk. Soalnya
kalau tidak disiapkan jadi dilematis juga.... Antara mengejar materi dan
memenuhi kebutuhan mereka.”
Moderator : “Waaaaaw, super
tanggapannya pak Aye.... saya tutup untuk termin 1 yaa😊. Selanjutnya
saya persilahkan kepada pak aye untuk memaparkan materi yang sudah di tunggu
tunggu.... Pak Aye, times is yours😊.”
Bersambung ....


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat