Peduli Difteri
Seorang penderita difteri yang diketahui sedang mengandung
meninggal dunia saat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Dokter Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa memilukan itu
terjadi kemarin. Peristiwa ini menambah panjang daftar korban meninggal akibat penyakit difteri.
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput
lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit.
Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam
jiwa. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti :
1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
Gejala
Difteri
Difteri umumnya
memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai
gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:
1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
2. Demam dan menggigil.
3. Sakit tenggorokan dan suara serak.
4. Sulit bernapas atau napas yang cepat.
5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
6. Lemas dan lelah.
7. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
2. Demam dan menggigil.
3. Sakit tenggorokan dan suara serak.
4. Sulit bernapas atau napas yang cepat.
5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
6. Lemas dan lelah.
7. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
Perawatan bagi penyakit ini termasuk antitoksin difteri, yang
melemahkan toksin dan antibiotik. Eritromisin danpenisilin membantu
menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Membuat lubang pada
pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa.
Umumnya difteri dapat dicegah melalui vaksinasi.
Penyakit yang sempat dinyatakan pernah menghilang dari Indonesia di
tahun 1990 kini menjadi kasus terbanyak dunia di tahun 2017 ini.
Ketua
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan mengatakan faktor yang
menyebabkan difteri kembali muncul dan mewabah di Indonesia ialah menurunnya
imunitas suatu kelompok yang diakibatkan dari beberapa hal. Beberapa hal
tersebut antara lain adanya program imunisasi yang tidak lengkap, program
imunisasi yang tak tercapai sempurna, adanya gerakan antivaksin di masyarakat,
tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran
masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri.
Apalagi memasuki awal tahun seperti ini, menggunakan terompet
biasanya dilakukan pada malam Tahun Baru, untuk memeriahkan acara itu rawan
menularkan penyakit difteri. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa penggunaan
terompet yang secara bergantian berpotensi terjadinya penularan penyakit
difteri.
Elizabeth mengatakan penularan penyakit difteri biasanya terjadi
melalui percikan ludah. Oleh karena itu, penularan difteri melalui terompet
dimungkinkan terjadi, karena percikan ludah dapat keluar saat seseorang meniup
terompet.
Namun, Elizabeth menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut
bergantian meniup terompet apabila telah diimunisasi. Elizabeth yakin mereka
yang telah diimunisasi akan kebal terhadap penyakit difteri dari berbagai pola
penularan.
Menurut mantan wakil menteri kesehatan (Wamenkes) pada Kabinet Indonesia Bersatu II,
Ali Ghufron Mukti. Edukasi, sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang
bahaya dan upaya pencegahan difteri harus terus ditingkatkan. Terutama, di
daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri.
Misalnya di tempat umum seperti di masjid atau pengajian atau
tempat umum lain bisa digunakan untuk sosialisasi tentang difteri.
#onedayonepost
#nonfiksi
#tantanganartikel3


3 komentar
Mencegah lebih baik daripada mengobati,mari imunisasi DPT
REPLYTerompet malah dijadikan kambing hitam. Sy kasian sama penjual terompet
REPLYPro dan kontra pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita menyikapinya
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat