Cara Rasulullah Membalas Keburukan
Bismillaah
Senandung shalawat dan salam tercurahkan
kepada Rasulullah, sang suri tauladan yang tetap termulia akhlaknya. Menapaki jejak
kehidupannya termasuk sebuah ibadah yang sangat dianjurkan, apalagi dapat
menirukan tindak tanduk dalam kehidupan. MasyaAllah
Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wa Sallam sangat tidak menyukai sifat keras, kasar dan kejam. Beliau memerintahkan kita mengajak pada
kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan jalan yang baik dan lemah lembut.
Dengan berbuat baik kepada orang lain tidak mungkin orang berbuat jahat kepada
kita. Kalau bisa walaupun kita disakiti, janganlah dibalas dengan tindakan
serupa. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh kita agar
membalasnya dengan kebaikan. Inilah sifat hilm yang diajarkan Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam.
Beliau tidak pernah membalas
dendam. Beliau tidak pernah memukul kecuali saat berjihad. Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam tidak cepat marah dan memaklumi orang yang berbuat salah
karena tidak tahu atau karena lupa.
Anas meriwayatkan, "Aku berjalan bersama
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau memakai sorban tebal
buatan Najran yang beliau lilitkan di lehernya. Tiba-tiba ada orang desa
menarik sorban tersebut dengan keras dan kasar sehingga aku melihat bekasnya
dibahu beliau.
Orang itu berkata, "Wahai
Muhammad berilah aku harta Allah yang ada padamu!" Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam menoleh dan tertawa kemudian menyuruh untuk memberi uang
kepada orang tersebut."
Dalam hadits yang lain, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa suatu hari
seorang Badui datang ke masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat yang
melihatnya marah. Mereka berlompatan dan menghambur untuk memukulinya. Namun
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam cepat-cepat mencegah. Beliau
bersabda, "Biarkan dia dan siramlah bekas kencingnya. Kita diutus bukan
untuk memberatkan, melainkan untuk mempermudah." Sikap mudah memaafkan dan
memaklumi ketidaktahuan orang inilah yang disebut rifq.
Sifat Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam yang lain adalah kesabaran. Beliau sabar menerima ejekan
dan cacian. Suatu hari seseorang yang bernama Hakam bin Ash pergi mencari
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Ia berhasil menemukan beliau yang
ketika itu sedang berjalan sendirian. Maka diikutinya langkah Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam itu dari belakang kemanapun beliau pergi dengan mengejek
dan menghina. Hakam bin Ash mengembang-kempotkan
mulutnya dan mencungir-cungirkan hidungnya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam menoleh ke belakang. Apa beliau marah? Tidak. Beliau bahkan
berkali-kali menasehati Hakam untuk menghentikan perbuatannya. Namun Hakam
bahkan semakin menjadi-jadi sampai akhirnya Allah mengubah hidung dan mulutnya
menjadi seperti ejekannya itu.
Dilain kesempatan, seorang
sahabat berniat ingin meminta tolong kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam karena ia sangat miskin. Namun di tengah jalan ia teringat sebuah
pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sehingga tidak jadi meminta
pertolongan. Kejadian demikian terjadi 3 kali, akhirnya ia mencari kayu bakar
lalu menjualnya. Lama-kelamaan hidupnya pun berkecukupan. Pesan Rasulullah Shallallahu
alaihi wasallam yang didengarnya adalah, "Barangsiapa meminta
pertolongan kepadaku akan kuberi dia pertolongan. Dan barangsiapa mencukupkan diri
maka Allah akan mencukupkannya."
Suatu ketika Bunda Aisyah
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam, "Apakah
ada saat bagi engkau yang kau rasakan lebih berat daripada Perang Uhud?"
Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam menjawab, "Ada yaitu permusuhan dari kaum Quraisy di Aqabah.
Ketika aku tawarkan Islam melalui diriku kepada Ibnu Abdi Jalil bin Abdi Kilal
ia tidak menerima diriku, kemudian akupun pergi dalam keadaan sedih. Kemudian
aku melihat di atas awan Jibril berseru memanggilku, "Sesungguhnya Allah
mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang telah mereka lakukan
terhadapmu. Aku diutus kepadamu untuk memerintah Malaikat Penjaga Gunung agar
patuh kepada perintahmu."
Kemudian Malaikat Penjaga
Gunung mengucapkan salam kepadaku dan
berkata. "Wahai Muhammad Allah telah mendengar apa yang dikatakan oleh
kaummu kepadamu. Aku ditugaskan oleh Allah untuk memenuhi perintahmu. Kalau
engkau mau, dua gunung ini akan kubalikkan dan kukubur mereka."
Aku menjawab, "Jangan, aku hanya berharap
semoga diantara anak cucu mereka ada yang mau menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya."
Begitu sabar dan sayangnya
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada sesama sehingga beliau
tidak pernah ingin membalas perlakuan jahat orang lain kepada dirinya. Ibnu
Mas'ud seorang sahabat dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
seakan-akan seperti seorang nabi yang dipukul oleh kaumnya sampai berdarah
kemudian membersihkan darah dari wajahnya sambil berkata, "Ya Allah
ampunilah kaumku karena mereka tidak tahu."
Wallahu alam bi shawab


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat