Waspadai Ghazwul Fikri
Ghazwul fikri bermakna perang pemikiran, merupakan strategi perang selain
perang fisik, face to face. Dalam arti luas, ghazwul fikri adalah cara
atau bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pikiran, tulisan, ide-ide,
teori, argumentasi, dan propaganda.
Namun demikian ghazwul fikri tidak
berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari metode perang
yang bertujuan akhir :
Jangka panjang:
🔹Pemurtadan.
Sesuai dengan firman Allah,
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari
agama kalian jika mereka mampu." (QS. Al-Baqarah : 217).
Jangka pendek:
🔹Pelarutan kepribadian (tidak bangga dengan identitas muslim)
seperti dikatakan dlm Al Qur’an,
"Mereka ingin supaya kamu
menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama
(dengan mereka)" (QS. An-Nisa [4] : 89),
🔹Pemerosotan akhlak (dekadensi moral),
🔹Pemikiran liberal,
🔹Pelucutan akidah dalam arti tidak masalah secara identitas agamanya
Islam tapi perilaku sehari-harinya jauh dari tuntunan Islam.
Masihkah kita ingat nubuwah
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang umat islam di akhir zaman ibarat
hidangan di atas piring yg menjadi rebutan orang-orang kafir utk memakannya
padahal pd saat itu umat islam berjumlah banyak, namun seperti buih di lautan,
tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh.
Ya, itulah gambaran kita saat ini.
Di dunia ini, satu setengah milyar lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tapi
penindasan kepada umat islam terjadi dimana-mana, diskriminasi, pembunuhan,
pembantaian, sudah menjadi hal biasa di negara dengan penduduk islam.
Umat islam tidak lagi ditakuti
karena kebanyakan mengidap penyakit Al Wahn yaitu penyakit cinta dunia
dan takut terhadap kematian. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.
Umat islam ada yang memandang bahwa
dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan, dan kematian adalah pemutus
kesenangan tersebut. Sehingga mereka menghindari kematian dengan berbagai cara,
salah satunya dengan enggan berjihad fi sabilillah.
Penyakit al wahn ini tentu tidak
datang begitu saja. Inilah hasil dari strategi Ghazwul Fikri. Sehingga
daya juang & kepedulian umat islam terhadap saudaranya sesama muslim melemah
bahkan mungkin sudah tidak peduli lagi. Padahal ini berkaitan erat dengan
keimanan. Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya
yang beriman sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Mungkin kita pernah mendengar atau membaca, tentang
bagaimana cara mengambil Alquran yang berada di tengah karpet, tanpa harus
menginjak karpet tersebut?
Seperti itulah umat islam saat ini ibarat karpet yang digulung.
Pelan-pelan digulung, pelan-pelan
dilipat, hingga umat islam tidak sadar bahwa mereka sedang dilemahkan dari
berbagai sisi. Sisi ekonomi, sisi akidah, sisi politik, sisi syariat dan sebagainya
Umat islam dilenakan dan terlena dengan
berbagai tipu daya dari para musuh islam. Hingga tidak peduli lagi apabila akidah
tergadai, sholat terlewat, tidak mempunyai pemimpin islam, umat islam banyak yang
miskin terlilit hutang riba dan masih banyak hal lain
Sebetulnya Iblis-lah peletak dasar ghazwul
fikri. Bagaimana uletnya Iblis melakukan pendekatan kepada Adam alaihissalam
dan Hawa dengan berperan seperti musang berbulu domba. Berpura-pura baik,
bahkan ingin dikesankan sebagai penasehat setia. Strategi demi strategi terus
dilancarkan tanpa pernah mengenal putus asa. Semata karena Iblis sudah
terlanjur akan menjadi penghuni neraka yang paling kekal. Maka dia akan
memanfaatkan kesempatan hidup di dunia ini dengan mencari teman
sebanyak-banyaknya untuk kelak menjadi penghuni neraka.
Lalu, siapakah sasaran paling empuk
dari program ghazwul fikri ini?
Ya, mereka menyasar para remaja
muslim dan muslimah, yang cenderung masih mudah diarahkan dan diwarnai.
Berbicara remaja maka tentu paling mudah dengan 3F , Food-Fun-Fashion
alias Makanan-Hiburan-Pakaian.
Melalui Food, para penyebar ghazwul
fikri membuat Muslim tidak peduli dengan konsep halal, sekaligus membanjiri
produk haram bagi Muslim. Juga tidak peduli dengan tempat mereka makan yang
notabene memberikan keuntungan bagi Israel untuk membantai muslim Palestina,
seperti McD dan Starbucks Coffee
Melalui fun, remaja islam
digiring untuk pacaran, mereka disalahpahamkan bahwa pacaran sebelum menikah
itu tidak apa-apa karena sebagai jalan untuk saling mengenal. Bahkan aktivis
dakwah pun ada yang terjebak dalam taaruf tapi pacaran atau "pacaran Islami"
. Mereka belum siap nikah tapi ikhwannya sudah memvonis bahwa si akhwat "miliknya" dan beberapa tahun lagi akan di lamar. Atau
kedoknya taaruf tapi berduaan, di sosial media, via sms, via telepon, saling
mengingatkan sudah makan belum, sudah shalat belum, sudah tilawah belum, jangan
lupa tahajud dan dhuha, besok shaum ya, jangan lupa sedekah dan lain
sebagainya seolah-olah mengingatkan untuk ibadah tapi nyatanya ini bentuk lain
dari pacaran.
Melalui fun juga, umat islam digiring
untuk memaklumi hasrat terkutuk kaum LGBT yang mempropagandakan bahwa mencintai
dan menikah dengan sesama jenis itu tidak apa karena kecenderungan suka pada
sesama jenis itu takdir Allah. Allah yang menghendaki mereka demikian ketika
dilahirkan ke dunia jadi harus diterima dengan tangan terbuka. Dengan bangga
mereka memproklamirkan diri, "Saya islam taat & saya gay",
"Saya berjilbab & saya lesbi".
Yang lebih gila lagi, setelah kaum
LGBT minta dilegalisasi dan beberapa negara barat sudah merealisasikan tuntutan
mereka, kini kaum dengan perilaku terkutuk lain minta dilegalisasi juga
pernikahannya yaitu di Jerman komunitas Incest (perkawinan sedarah) dan di
Amerika komunitas pedofilia (berhubungan seks dengan anak-anak) .... Naudzubillahimin
dzalik
Melalui fashion, penyebar ghazwul fikri
menuntun pikiran remaja bahwa pakaian itu aktualisasi diri dan gaya hidup,
bukan penutup aurat. Hijab syar’i dikira kuno karena tak menarik dan muslimah
berlomba berpakaian untuk menarik perhatian. Apalagi ketika hijab syar'i sudah
menjadi life style namun tidak dibarengi dengan pemahaman dan akhlak yang
baik.
Inilah hasil perencanaan kaum yahudi
(fremasonry dan illuminate) melalui apa yg disebut The New World
Order atau Tatanan Dunia Baru. Salah satu rencana mereka adalah menghilangkan
ikatan keluarga normal yang terdiri dari ayah, ibu, anak. Mereka gencar
berkampanye agar homoseks, lesbian, biseks, transgender dll legal menikah agar
tak ada lagi keluarga yg melahirkan anak-anak, terutama di umat islam. Lama-lam
habis generasi penerus islam, itu cita-cita mereka.
Semua serangan pemikiran ini
tujuannya satu, agar Muslim menjauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sumber
kekuatan, hingga mereka lemah.
"Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu”. [QS.
al-Baqarah (2) : 120].
Masihkah kita tidak peduli dengan
bahaya ghazwul fikri yang sudah menyelusup hingga ke ruang keluarga di
rumah kita?
Akankah kita berdiam diri melihat
begitu banyak kehancuran generasi muda islam di depan mata kita?
Semoga jawaban nya adalah T I D A K.
Minimal kita lindungi keluarga kita dari pengaruh negatif televisi &
lingkungan pergaulan.
Selain itu kita tingkatkan pemahaman
keislaman kita secara sempurna. Jangan pernah ragu-ragu untuk menampakkan
identitas keislaman kita. Dan jangan lupa selalu membaca dan mengkaji Al-quran,
sunnah dan hadist karena itulah kekuatan utama umat islam.
Wallahu alam bi
shawab
Sumber : Kajian Umum Shalihah oleh
Ustadzah Popy Fauziah


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat