Keramaian di Dunia Maya part 2
“Selamat pagi... Saya udah nulis, loh... Kamu udah juga belum?.
Klik: http://www.bangsyaiha.com/2017/09/member-one-day-one-post-harus-ngeblog.html?m=0”
Tegur admin bernama BangSyaiha selepas shubuh.
Senin pagi ketika jam menunjukkan pukul 05:22 WIB pesan ini diterima, waktu disaat kebanyakan para
manusia sedang riweuh dengan persiapannya menyongsong beban dunia
seharian. Ternyata, Abang admin yang satu ini masih rela menyempatkan diri untuk
menyuntikkan semangat kepada para adik barunya di grup itu. Anggap aja semua peserta
yang baru bergabung disana masih adik-adik, hehe.
Lalu bagaimana denganku?
Aku yang baru sempat membuka pesan ini selepas dhuha pun makin
terkagum-kagum, setelah sebelumnya kekagumanku akan beratus peserta mancadaerah
belum rampung, kali ini dibuat terkagum lagi akan keramahan para pengasuh. Terucaplah
syukur kemudian.
Bejibun pesan pun membuntuti teguran itu. Sampai tibalah peraturan
perdana grup ini dirilis. Diawali dengan ucapan selamat bergabung disertai
harapan semoga aman, nyaman, dan menambah keberkahan dalam menulis dari admin,
lalu ditunjukkanlah teknik pelaksaan acara sebelum resmi menjadi murid di kelas
ini, dimulailah masa orientasi sejak itu. Jadi teringat bagaimana susahnya
masa-masa orientasi jaman old.
Kututup lagi akses grup itu untuk melanjutkan aktivitas nyata di
dunia maya yang lain, sebelum akhirnya beraktivitas maya di dunia nyata. Apaan
sih.
Sebakda dhuhur disaat istirahat siang, iseng kutengok chat teratas
di dinding whatsapp. Terbukalah sebuah puisi dari seorang pelatih panahan, saat
kubaca ternyata pas dengan keadaan siang itu, ah mungkin puisi ini baru saja
ditulis.
Oleh
: Mursyid Syaiful Haq
Debu
jalanan sungguh keras
Engkau
adalah penghalang aku melangkah
Saat
terik matahari menerpa
Dan
angin debu mengacaukan pandangan
Debu
jalanan sungguh keras
Saat
aku berusaha melangkah menuju kenikmatan
Atas
cinta dan kasih sayang dari Tuhan ..
Melalui
sujud sembah ku lantunkan
Debu
jalanan sungguh keras
Melukai
kaki mungilku menggapai majlis ilmu
Lelah
letihku terobati oleh air wudhu
Tanda
perjuanganku untuk menggapai surga-Mu
Sebelum pertanyaan kulontarkan, ternyata sebuah jawaban telah terkirim
oleh empunya.
“Puisi tadi berawal dari
pengalaman spiritual saya mengaji ke salah satu tempat di Bandung. Saya waktu
itu masih kecil yang harus berjalan kaki sekitar 2 km dari rumah.
Bikinnya mah barusan, tapi puisi itu menceritakan pengalaman saya
lima belas tahun lalu ..
Biasanya orang berpuisi menguasai gaya bahasa tertentu, tidak semua
hafal atau mengerti.
Ini karena pengaruh dari karakter suasana hati penulis itu sendiri.
Kalau orangnya suka baper seperti saya biasanya puisinya tuh yang bikin orang
klepek2 gitu ..
Kalau yang suka politik biasanya dengan gaya bahasa yang kritis
seperti lagunya ‘Bento (Benteng Soeharto)’ dan ‘Bongkar’ buatan Iwan Fals”
terang Mursyid.
Pertanyaan pun bermunculan dari peserta yang mungkin penasaran
sepertiku, atau mungkin hanya iseng mengulang pengetahuannya, ah itu urusan
mereka yang terpenting aku menimba ilmu mereka.
Tanya: “(Stared) berarti
idenya itu terlintas begitu aja ya? dan eksekusi hingga jadi sebuah puisi itu
nyusun kalimatnya macam mana? mikir perkalimatnya itu gimana aku kadang suka
bingung hahaha..”
Jawab: “Iya begitulah puisi.Kalau masalah mikir gimana penulisan
kata2nya itu sesuai kita aja. Biasanya anak2 juga kalau nulis puisi kan ga
ribet harus mikirin kata2, yang sesuai dengan dunia mereka.
Contoh :
Aku sayang guruku
Dia mengajari aku
Matematika
Bahasa Indonesia
Dan mata pelajaran lain
Karena guruku
Akhirnya aku menjadi pintar
Berhitung
Membaca dan menulis
Aku sayang guruku
Terima kasih guruku
Yang penting kita tentukan temanya tentang apa dan jelas tujuannya
ke mana. Kalau mau belajar detailnya ada guru sastra yang mungkin lebih paham
tentang ini, karena puisi itu termasuk sya'ir yang berkaitan dengan bahasa,
dengan budaya juga ..
Puisi yang saya tulis adalah sya'ir kontemporer yang sifatnya
bebas, kalau sya'ir yang klasik lebih ke budaya adat dan suku ..”
Tanya: “Kan ada ya yang suka bikin puisi itu berima, ada pula yang
bebas. lebih enak bagi pemula yang kayak gimana? soalnya kan kalau yang berima
kayaknya lebih susah ya mencocokkan katanya 😅😅.”
Jawab : “Kalau yang berima mah mirip pantun kang hehe . Rima yang
standar bunyinya a,b,a,b. Gitu kang hehe.”
Tanya : “Gurindam ya kalau nggak salah yang masuk ke budaya..
mantra, duhh ketauan sering bolos pas
pelajaran.”
Jawab : “Iya kang budaya adat Sunda. Tulisannya bersifat pesan
moral biasanya. Ngena banget sama pesan2 spiritual, mulai dari adat Hindu
sampai ajaran Muslim juga ada.
Kalau belajar sastra Indonesia pangkal bahasanya Melayu, dan
bercampur bahasa lain yang dari Sunda, Jawa, Inggris dan Arab, juga bahasa
lainnya. Kalau dibuat menjadi sya'ir kata2 dari bahasa itu harus hafal di luar
kepala 😂😅
Tanya : “Macam serat chentini ya kalau yang bahasa jawa, kalo sunda
apa ya namanya lupa 😂😅.”
Jawab : “Kalau di Sunda juga saya kurang tahu hahaha 😂.
Saya dulu waktu SMP pernah belajar mengiringi lagu2 melalui musik
Gamelan, saya cuma ingat beberapa judul lagu saja, ada Kulu-Kulu, Catrik,
Maskumambang dan iringan lagu tari Merak. Guru saya waktu itu, Bapak Enu
Wihardja, S.Pd. adalah lulusan S1 Sastra Sunda.
Kata beliau, mata kuliah Sastra Sunda sudah jarang diminati.
Beliau pernah bercerita tentang cinta lokasi dengan istrinya, yang
dulunya seorang penari adat Sunda hehe ..
.
.
.
MasyaAllah, grup baru dibuat dalam dua saja sudah ramai dengan
tebaran ilmu, bagaimana nanti dikemudian hari?. Aku yakin akan lebih ramai
daripada ini, sebab dulu disana juga begini.
Asyik menyimak keramaian akibat percakapan mereka, tak sadar jam istirahat telah
usai. Kututup lagi akses Whatsapp untuk kemudian kubuka di sela-sela kenyataan.
Bersambung....


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat