Kisah Kasih Khalil
Sejak masa mudanya, Rasulullah amat mencintai anak-anak.
Sewaktu pulang dari Perang Badar, beliau mengajak Usamah, putra Zaid bin
Haritsah, naik unta bersama. Saat itu, Usamah masih berusia 10 tahun.
Rasulullah adalah kakek yang penyayang. Beliau sangat sering
bermain dengan cucu cucunya. Beliau membiarkan Umamah, putri Zainab dan Abu Al
Ash, menarik-narik jubah saat beliau sedang sholat. Bahkan, Rasulullah
membiarkan Umamah menunggangi punggung ketika beliau juga sedang shalat.
Suatu hari, Rasulullah pernah berkumpul dengan para istrinya.
Beliau menggendong Umamah sambil mengeluarkan seuntai kalung.
"Kalung ini akan kuberikan kepada orang yang paling aku
cintai," kata Rasulullah sambil memandang istrinya satu per satu.
Para istri Rasulullah saling memandang dengan memendam rasa
berdebar. Siapakah di antara mereka yang akan mendapatkan kalung itu? Ketika
Rasulullah melihat candanya mengena, sambil tersenyum, beliau memberikan kalung
itu kepada Umamah.
Pada saat lain, Rasulullah pernah dikencingi seorang bayi
sampai baju beliau basah. Ibu sang anak merenggut anaknya dari gendongan
Rasulullah dengan keras. Melihat hal itu, Rasulullah langsung berkata,
"Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul
akan tetap terluka."
Setelah itu, beliau pun melaksanakan shalat tanpa berwudhu
lagi. Beliau hanya mencipratkan air pada pakaian yang terkena kencing.
Ada seorang anak yang sering dikunjungi oleh Rasulullah. Suatu
saat, anak itu tampak murung karena burung peliharaannya lepas. Rasulullah pun
segera datang dan membuat anak itu tersenyum kembali. Rasulullah juga banyak
menghabiskan waktu bermain dengan anak anak kaum Muslimin yang lahir di negeri
hitam Habasyah. Beliau tersenyum melihat mereka mengucapkan kata kata dalam
bahasa Habasyah yang terdengar lucu.
Rasulullah sangat
pandai bergaul dengan siapa saja. Beliau mempunyai banyak kenalan baik, mulai dari
budak sampai ke para pembesar. Rasulullah sangat menghormati para sahabatnya.
Bahkan, banyak di antara mereka yang beliau beri julukan
"kesayangan". Sebaliknya, para sahabat pun amat menyayangi
Rasulullah. Sebagian mereka memberi Rasulullah dengan julukan
"kesayangan" juga. Abu Dzar memberi julukan "khalil" kepada
Rasulullah. Khalil berarti 'teman' atau 'kekasih'.
Rasulullah tidak pernah menolak undangan. Sesibuk apa pun,
Rasulullah selalu bisa membagi waktu dengan baik untuk memenuhi undangan. Hal
hal seperti ini membuat beliau amat dihormati dan dihargai lawan ataupun kawan.
Rasulullah menjadi orang yang disayangi dengan tidak banyak
mengumbar bicara. Sebaliknya, beliau malah lebih suka mendengar daripada
berbicara. Rasulullah selalu berkata seperlunya. Kalau bicara,perkataannya
mengalir lancar dari celah gigi giginya. Rasulullah selalu bicara ke pokok
masalah, jelas, tanpa bertele-tele.
Jika sedang marah, wajah beliau berubah, tetapi beliau selalu
menyembunyikan dari orang lain. Kalau disakiti, beliau membuang wajahnya ke
samping. Kalau gembira, Rasulullah menundukkan kepala. Canda beliau selalu
sopan dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Tertawa beliau hanya senyum.
Selain amat menyayangi sesama manusia, beliau adalah penyayang
binatang. Tahun 630 M, beliau pernah berjalan memimpin 10.000 tentara Muslim.
Saat itu, Rasulullah melihat seekor anjing bersama anak-anaknya menghalangi
jalan. Beliau memerintahkan agar pasukan tidak mengganggu sang induk anjing dan
anak anaknya. Rasulullah bahkan memerintahkan seorang prajurit menjaga anjing
itu sampai semua pasukan lewat.
![]() |
| Kisah Kasih Khalil |
Wallahu 'alam bi shawab


1 komentar:
woahh khalil artinya itu yaa..
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat