Membangun Kesiapan Belajar dengan Aktivitas Kaya Makna 2
Narasumber : “Dari diskusi
singkat tadi kita jadi sama sama memahami bahwa ternyata membuat siswa siap
untuk menerima pelajaran itu tak kalah penting dengan konten materi yang akan
dibawakan. Pemilik media bisnis nomor wahid, Marcolm Forbes pernah berkata, ‘Presence
is more than just being there.’ - kehadiran itu lebih dari sekedar berada
di tempat itut. Saat siswa kita hadir di dalam kelas bukan berarti pikiran dan
hatinya ada di kelas. Sebagian mungkin ada yang pikirannya masih
melayang-layang pada makanan enak di kantin yang gagal ia beli karena
mengantri. Sebagiannya lagi bisa jadi ada yang pikirannya masih mengawang-awang
di atas kasur rumahnya yang empuk dan nyaman. Boleh jadi hanya segelintir siswa
yang pikiran dan hatinya bersama kita di ruang belajar.
Oleh
karena itu sebagai pendidik, sebagai fasilitator, kita perlu melakukan upaya
menghadirkan jiwa, pikiran dan raga mereka di dalam ruang belajar bersama kita.
Bagaimana caranya? Konsepnya sederhana saja. Perlu ada sebuah aktivitas yang
membuat siswa sadar bahwa mereka sedang berada di ruang belajar dan akan
belajar dalam beberapa puluh menit berikutnya. Perlu ada aktivitas yang
'mendobrak' kesadaran mereka sehingga mereka siap meninggalkan alam pikiran
mereka sebelumnya dan memasuki alam belajar bersama kita.
Sebagai
contoh, saat saya menghadapi kondisi yang dipaparkan oleh moderator di awal,
saya menerapkan aktivitas bakar sampah emosi sebelum memulai pelajaran di
kelas. Kebetulan karena siswa di kelas yang saya ampu memiliki ketertarikan
dengan konten islami, sebelum memulai aktivitas saya adakan dialog singkat.
Saya
(Sa) : ‘Gais, menurut kalian
belajar itu baik atau buruk?’
Siswa
(Si) : ‘Baiiiikkk’
Sa : ‘Kenapa belajar itu baik?’
Si : ‘Karena
mencari ilmu itu termasuk amalan yang dimuliakan Allah pak’
Si : ‘Karena bisa jadi pinter’
Si : ‘Karena bisa minterin
orang pak’
Sa : ‘Ok, kalau hal baik setan
suka ga?’
Si : ‘Engggaaaa’
Sa : ‘Jadi kalo kita mau
belajar biasanya setan ngapain?’
Si : ‘Gangguin pak.’
Sa : ‘Gimana cara mereka
gangguin?’
Si : ‘Yaa... dibuat ngantuk’
Si : ‘Dibikin laperr paaak.’
Si : ‘Dibuat ga suka sama
pelajarannyaa’
Sa : ‘Nah, banyak kan? Makanya biar itu srtan pada
ilang semua. Bapak minta kalian keluarkan kertas dan tuliskan semua 'bisikan
setan' yang ada pada diri kalian. Tulis semua hal negatif yang kira-kira akan
mengganggu kalian selama belajar di kertas itu. Kalau sudah Bapak minta
masukkan kertas itu di wadah ini.’
Lalu
mereka pun menuliskan di kertas yang sudah saya bagikan di awal danmemasukkannya
ke dalam loyang kue bolu yang sudah saya beri spiritus di dalamnya. Setelah
semua terkumpul selanjutnya saya bakar seluruh kertas itu dan membiarkan api
menyala-nyala.
‘Nah,
semua hal buruk yang akan mengganggu belajar kalian sudah kita bakar. Jadi
setelah ini kita berharap ga ada lagi yang ngantuk, yang usil, yang
ngomel-ngomel, yang berantem ama temennya dan laen laen. Kalo ada, berarti
setannya belum ilang. Nanti bakalan Bapak ruqyah.’, ujar saya menutup aktivitas
pembuka di hari itu diiringi tawa para siswa.
Setelah
itu aktivitas pembelajaran berjalan seperti biasa. Siswa tetap belajar di dalam
kelas, dengan angin sepoi-sepoi. Sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah
mereka sudah lebih terkondisikan.
Lalu
bagaimana hasilnya ketika menerapkan teknik tersebut? Hasilnya sangat membantu.
sekitar 70-80% siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Meskipun ada
beberapa yang tampak masih belum bisa 100% fokus dengan pembelajaran. Namun
demikian saat ada siswa yang terlihat 'meleng' atau tidak fokus saya dekati
lalu saya ingatkan bahwa hal-hal buruk yang menjadi penghalang fokus belajarnya
sudah hilang bersama api. Jadi saya lebih mudah mengajak siswa untuk
memfokuskan diri.
Nah,
Aktivitas di atas sebenarnya hanyalah salah satu contoh aktivitas pembuka kelas
yang bisa kita lakukan untuk membuat siswa lebih siap belajar bersama kita. Ada
banyak sekali bentuk aktivitas lainnya yang bisa kita lakukan. Kombinasi dan
model nya bisa tidak terbatas.
Semua
tergantung kreativitas dan tentunya kesediaan kita sebagai pendidik
menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi kita dan siswa.
Untuk
mempermudah dalam merancang, menurut saya setidak-tidaknya aktivitas tersebut:
1.
Melibatkan seluruh siswa.
Pastikan
tidak ada siswa yang pasif atau tidak terlibat. Lakukan komunikasi persuasif
agar mereka kooperatif.
2.
Mewakili kesepakatan siswa secara simbolis bahwa mereka siap untuk belajar. Ini
modelnya juga macam-macam.
3.
Tidak memerlukan waktu yang lama (agar waktu belajar tidak tersita).
Kita
perlu ingat ini adalah aktivitas pembuka, bukan aktivitas utama.
Ibarat
menikmati jamuan makan malam di hotel bintang lima, aktivitas pembuka itu
ibarat appetizer alias makanan penggugah selera.
Jangan
sampai siswa 'kenyang' Sebelum menikmati hidangan utama.”
Diskusi pun terus berlanjut sampai
jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Saya yang tidak kuat menahan kantuk memutuskan
untuk menutup aplikasi sebelum diskusi diakhiri moderator. Semoga apa yang didapat
hari itu bisa saya praktekkan nantinya minimal saat membersamai buah hati. Aamiin
Wallahu “alam
bi shawab


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat