Resensi Buku Fiksi-ABUNAWAS Mengecoh Raja
Bismillaah
Ditantang membuat resensi tentang buku dan film di akhir minggu
kelas non fiksi grup one day one post
batch4 menjadi hal yang cukup membingungkan bagi saya. Sepertinya ini adalah efek kurangnya latihan
yang saya lakukan dalam hal tulis menulis meskipun saat sekolah dulu pernah
dapat materi tentang resensi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ah, beginilah efek
kalau sistem sekolah cuma kognitif minded. Tapi mungkin inilah suratan
takdir saya agar mau terus belajar di masa pasca sekolah, hehe.
Kali ini saya ingin mencoba memenuhi tantangan membuat resensi buku
fiksi. Sebenarnya banyak novel yang pernah saya baca dulu waktu sekolah, namun
apalah daya saya telah lupa bagaimana unusr instrinsik maupun ekstrinsik novel
tersebut, karena dulu saat membaca tidak ada inisiatif untuk menulis.
Dikarenakan waktu membaca
yang kurang, saya memutuskan untuk membaca sebuah buku fiksi tipis yang
dipinjam dari perpustakaan sebuah sekolah dasar tempat dimana tetangga kecil
saya menuntut ilmu, dia pinjam buku ini untuk mengisi libur panjang semester
ganjil.
Judul buku :Abunawas Mengecoh Raja
Penyusun :MB.Rahimsyah
Penerbit :Putra Jaya Surabaya
Bahasa :Indonesia
Genre :Humoris
Hal :32
Sampul depan :Soft Cover
ISBN :-
Buku
ini menceritakan tentang dongeng kecerdikan seorang Abu Nawas yang ditulis berasal
dari Persia. Tujuh dongeng yang terdapat dalam buku ini kemungkinan di ambil
dari cerita-cerita seribu satu malam yang digemari oleh banyak orang. Abu nawas
dalam cerita ini mengalami aneka persoalan dan kejadian bersama raja dan
masyarakat sekitarnya, karena akalnya yang cerdik akhirnya ia dapat
menyelesaikan masalah-masalah itu. Di bagian
sampul belakang juga disebutkan bagaimana kecerdikan Abu Nawas membalas
perbuatan raja yang semena-mena. Tersampaikan juga harapan penulis agar setelah
membaca buku ini, para teman pembaca bisa mengambil banyak hikmah dan
pelajaran.
Sekilas
buku ini terlihat menarik untuk anak-anak sebab di setiap cerita ada gambar
ilustrasi berwarna yang mendukung isi cerita. Ukuran buku A5 tipis membuat
ringan pembaca saat memegangnya. Cerita humor yang disajikan menggunakan bahasa
ringan yang mudah dimengerti anak.
Namun,
terlihat lebih banyak kekurangan dengan buku ini apalagi untuk bahan bacaan
anak usia sekolah dasar.
Miris
saat melihat judul yang terpampang disertai ilustrasi seorang lelaki membawa
kantong sambil tertawa dihadapan seorang lelaki yang sedang geram memandangnya.
Mungkin tetanggaku memilih buku ini karena merasa sesuai dengan usianya, entah
dengan pendampingan sang guru atau tidak saat pemilihan.
Kemirisan
berlanjut saa melihat daftar isi cerita. Hanya tujuh saja judul yang diceritakan,
namun dari judul itu saja saya merasa kalau buku ini kurang layak dibaca anak
usia sekolah dasar. Bagaimana tidak? Kata-kata yang dipilih untuk judul itu
seakan-akan mengajak anak unutk berlaku jahil.
- 1. Berak di Tempat Tidur
- 2. Aku Sudah Tahu
- 3. Lebih Suka Masuk Penjara
- 4. Licik Dibalas Licik
- 5. Membalas Perbuatan Raja
- 6. Mengecoh Raja
- 7. Debat Kusir Tentang Ayam
Meskipun
begitu, saya tetap bertekad untuk melanjutkan bacaan sampai tamat sebagai bahan
berdiskusi dengan orangtua si empu buku ini.
Memasuki
judul pertama, diceritakan bahwa Abu Nawas didatangi oleh pengawal raja yang
diberi titah untuk berak di tempat tidur Abu Nawas, namun akhirnya mereka malah
mendapat kesengsaraan akibat termakan silat lidah si Abu Nawas ini, malah dia
yang mendapat hadiah dari raja.
Lanjut
ke cerita kedua, disini tersampaikan bahwa Abu Nawas lagi-lagi mengecoh raja
dengan berpura-pura menjadi gila ketika ayahnya yang seorang kadi baru saja
meninggal. Di akhir kisah dinyatakan kenapa alasan Abu Nawas berpura-pura.
Terus
berlanjut ke cerita-cerita berikutnya sampai dengan akhir. Pada intinya buku
ini menceritakan bagaimana cara Abu Nawas membuat oranglain terkecoh sehingga
dia bisa mendapatkan hadiah maupun kepuasan lainnya.
Setelah
membaca buku ini, saya mempunyai beberapa catatan yang mungkin kurang disadari
oleh sebagian orangtua maupun guru dalam memilihkan buku bacaan yang layak
untuk anak.
1. Pilih buku cerita berkualitas
Cerita yang berkualitas diharapkan mampu menambah akhlak dan kosakata terbaik untuk anak. Jangan hanya karena murah langsung main ambil buku seenaknya, sebab ternyata banyak buku yang tidak sesuai standar.
2. Dampingi anak saat membaca
Kadang si anak masih kesulitan memahami hikmah cerita yang dibaca. Bantu anak memahami dengan benar maksud dari cerita yang dibaca, atau kalaupun dia sudah paham coba pancing pertanyaan untuk menguji pengetahuannya. Apalagi ketika buku yang dipilih anak ternyata tidak memenuhi standar.
Wallahu
‘alam bi shawab
#onedayonepost
#nonfiksi
#resensibukufiksi
#nonfiksi
#resensibukufiksi


4 komentar
Abunawas...legenda cerita zaman anak-anak..
REPLYAnak ku masih tahap membaca gambar jadi ya kalo banyak tulisan belum suka pilih buku tersebut.
REPLYSaya suka baca cerita abu nawas lucu dan cerdik
REPLYCerita zaman dulu ini. Tapi entah kenapa saya agak gimana gitu sama lelucon ala abu nawas
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat