Wanita Suci Pilihan Nabi-bagian 2
Pada musim semi tahun 595 Masehi,
para pedagang Mekah kembali mulai menyusun kafilah perdagangan musim panas
mereka untuk membawa barang dagangan ke Syiria. Khadijah juga sedang
mempersiapkan barang dagangannya, tetapi ia belum menemukan seseorang untuk menjadi
pemimpin khafilahnya. Beberapa nama diusulkan orang, namun, tidak satu pun yang
berkenan di hatinya.
Mendengar itu, Abu Thalib
mendatangi Khadijah dan menawarkan kepadanya Muhammad, keponakannya yang baru
berusia 25 tahun, untuk menjadi agen Khadijah. Abu Thalib tahu bahwa Muhammad
belum cukup berpengalaman, tetapi ia sangat yakin bahwa Muhammad lebih dari
sekadar mampu. Seperti penduduk Mekah lain, Khadijah pun telah mendengar nama
Muhammad. Satu hal yang Khadijah yakin adalah kejujuran Muhammad. Bukankah
orang Mekah menjulukinya "Al Amin" atau "Orang yang bisa
dipercaya"? Maka, Khadijah segera menyetujui tawaran Abu Thalib. Bahkan ia
hendak memberi Muhammad upah dua kali lipat daripada yang diberikan kepada
orang lain. Oleh karena itu, Abu Thalib pulang dengan gembira.
Segera saja Abu Thalib dan
Muhammad menemui Khadijah yang kemudian menerangkan tentang seluk beluk
perdagangan. Otak Muhammad yang cerdas bekerja dengan tangkas. Ia segera
memahami semuanya. Tidak satu penjelasan pun yang ia minta diterangkan ulang.
Maka, kafilah pun disiapkan
dengan suara riuh rendah. Khadijah menyertakan seorang pembantu laki-lakinya
yang terpercaya. Maisarah, untuk mendampingi Muhammad di perjalanan. Diantar
Abu Thalib dan paman-pamannya yang lain, Muhammad datang pada hari yang telah
ditentukan. Mereka disambut seorang paman Khadijah yang sedang menanti mereka
dengan surat-surat perdagangan.
Pemimpin kafilah membunyikan bel
dan semuanya segera berangkat. Pada musim panas, kafilah Mekah berangkat
menjelang senja dan terus berjalan pada malam hari. Mereka beristirahat pada
siang hari karena perjalanan siang akan sangat melelahkan semua orang. Maka,
berangkatlah Muhammad menempuh jalur yang pernah ditempuh bersama pamannya 13
tahun yang lalu.
Di perjalanan, Muhammad mendapati
bahwa Maisarah adalah teman yang baik. Dengan senang hati, Maisarah menunjukkan
dan menceritakan sejarah berbagai tempat menarik yang mereka lewati. Muhammad
juga menemui bahwa anggota kafilah yang lain sangat ramah dan akrab
terhadapnya. Setelah satu bulan berjalan, tibalah mereka di Syiria.
Setelah beristirahat beberapa
hari, mulailah para pedagang menuju ke pasar. Walaupun ini adalah pengalaman
pertama. Muhammad sama sekali tidak bingung dengan tugasnya. Maisarah
tercengang melihat kelihaian Muhammad mengambil keputusan, pikirannya yang
tajam, serta kejujurannya. Semua barang yang mereka bawa laku terjual dengan
jumlah keuntungan yang belum pernah didapatkan Khadijah sebelum itu. Setelah
itu, Muhammad membeli barang-barang berkualitas yang pasti akan terjual dengan
harga tinggi di Mekah.
Di Syiria itu, setiap orang yang
berjumpa dengan Muhammad pasti sangat terkesan olehnya. Penampilan Muhammad
sangat memesona, ramah, dan sangat besar perhatiannya pada setiap orang. Di
tengah-tengah kesibukan itu, Maisarah melihat bahwa Muhammad selalu
memanfaatkan setiap waktu senggang untuk menyendiri dan berpikir. Ini benar
benar tidak lazim bagi Maisarah. Ia tidak menyadari bahwa tuan mudanya ini
memang sangat terbiasa meluangkan waktu untuk memikirkan nasib umat manusia.
Muhammad juga amat heran melihat
perpecahan berbagai kelompok Nasrani di Syiria. Setiap masing masing dari mereka memiliki jalan dan pendapat
sendiri padahal seharusnya mereka bergabung dalam satu kelompok. Manakah yang
paling benar dari semuanya? Pikiran-pikiran seperti ini membuat mata Muhammad
selalu terbuka pada saat orang orang lain terlelap tidur.
Wallahu 'alam bi shawab
#30harimenulis
#hari3
#onedayonepost


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat