Wonderful Life Movie (Karena Semua Anak Terlahir Sempurna)
Bismillaah
Menonton adalah salah satu kegiatan
yang ternyata menjadi hobi bagi saya. Sedari kecil suka sekali jika sudah tiba
waktu menonton televisi tiba, apalagi jika masa-masa ujian sekolah, hehe.
Namun sayangnya, saya baru
mengetahui perbedaan istilah-istilah dalam tontonan itu saat masa sekolah
menengah pertama, sebab dari kecil sudah salah kaprah dalam menyebut nama
tontonan, apapun yang ditayangkan di televisi selain berita dan iklan itu namanya
film.
Saya berkesempatan untuk kali
pertama menonton film sungguhan di
bioskop langsung pada tahun 2016 kemarin. Waktu itu saya mendapatkan tiket
gratis untuk menonton film wonderful life yang diangkat dari sebuah novel kisah
nyata yang ditulis sekaligus dialami oleh Amalia Prabowo tentang anaknya yang
bernama Aqillurachman Prabowo (Aqil), film Wonderful Life mengangkat tema
parenting anak berkebutuhan khusus.
Film bergenre keluarga ini baru
tayang serentak pada 13 Oktober 2016 di seluruh bioskop tanah air. Film ini
disutradarai oleh Agus Makkie dan Jenny Jusuf selaku penulis skenarionya.
Sementara di jajaran produser filmnya ada Angga Dwimas Sasongko, Handoko
Hendroyono, dan Rio Dewanto. Digarap langsung oleh Rumah Produksi Film Visinema
Pictures, Creative & Co. Sedangkan pemainnya banyak diisi aktor dan aktris
kawakan. Banyak nama-nama yang sudah familiar di kancah perfilman tahan air.
Seperti Atiqah Hasiholan berperan sebagai Amelia Prabowo, Lydia Kandou ibunya,
Arthur Tobing sebagai ayahnya, tentunya juga sebagai kakek dari Aqil yang
diperankan oleh Sinyo. Alex Abbad ia merupakan tangan kanan Amelia di
kantornya, ada juga Totos Rasiti dan Abdurrahman Arif, keduanya sebagai tukang
ojek perahu dan karakternya lucu. Ada juga
Didik Nini Thowok yang menjadi salah
satu tabib pengobatan tradisional.
.
.
.
Dibesarkan oleh orang tua yang
selalu menuntut anaknya berprestasi, Amalia seorang single-parent berusaha
menerapkan prinsip yang sama juga kepada anaknya.
Namun nasib berkata lain. Aqil anak
Amalia, justru memiliki kesulitan membaca dan menulis. Sepanjang pelajaran
berlangsung pun, Aqil tidak pernah fokus mendengarkan gurunya, yang dikerjakan
hanya lah menggambar tanpa pernah menyelesaikan tugas sekolahnya.
Nilai-nilainya di sekolah pun kurang
baik dan dianggap tidak berprestasi, Aqil hanya menonjol pada mata pelajaran
seni dan olahraga.
Setelah konsultasi ke dokter,
ternyata Aqil divonis mengidap disleksia. Tidak terima dengan kenyataan ini,
Amalia melakukan segala hal demi membuat anaknya sembuh dan bisa berprestasi di
sekolah.
Mulai dari pergi ke terapis hingga
mengunjungi berbagai orang pintar di pulau Jawa, semua dilakukan Amalia demi
kesembuhan Aqil.
Perjalanannya untuk menyembuhkan
Aqil agar dapat berprestasi pun membuat kariernya sebagai seorang CEO dan
strategic planner di salah satu perusahaan keteteran dan terancam.
Tekanan dari berbagai sisi dirasakan
oleh Amalia. Dari keluarga, pekerjaan dan keadaan anaknya. Sempat putus asa,
hingga akhirnya Amalia disadarkan untuk menyayangi dan mendukung apa yang
menjadi kegemaran Aqil, bukannya memaksakan keinginan dan ambisinya terus
menerus.
.
.
.
Film secara keseluruhan sudah bagus,
apalagi para pemeran mampu menghidupkan karakter yang diperankan. Nama-nama
tenar pemainnya layak jadi jaminan bagusnya akting mereka. Film ini juga
menyimpan pesan moral agar para orang tua tersadarkan untuk memberi kebebasan
kepada anak-anaknya memilih apa yang mereka gemari. Karena saat semua itu
dilakukan dari hati, pasti mereka bisa menemukan kebahagiaan dan kesuksesan.
Namun, ada adegan tak logis yang
dapat dikatakan fatal. Adegan tersebut saat ibu dan anak makan malam di warung
pinggir jalan, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Setelah
selesai makan dan hendak membayar, saat itu Amalia baru menyadari dompetnya
tidak ada dalam tasnya –biasanya kehilangan sesuatu dibocorkan pada
adegan sebelumnya, kalau seperti ini tiba-tiba hilang begitu saja.
Singkatnya, Amalia punya ide ‘nakal’
untuk kabur tanpa membayar semuanya. Dengan berpura-pura minta tisu sebagai
pengalihan siatuasi dan ketika penjual masuk mengambil tisu, momen itulah yang
digunakan mereka untuk kabur. Apa tidak ada solusi logis? Misalnya berterus
terang kepada penjual guna mendapatkan solusi bersama, atau menyerahkan barang
berharga bila dikonversi nilainya seimbang daripada harus berperilaku (maaf)
seperti itu. Terlepas dari ending cerita yang ia mengirimkan amplop berisi uang
sebagai pengganti dan sekalipun nominalnya besar sekali.
Ketimpangan berlanjut dengan adegan
si penjual rela mengejar dengan motor bututnya. Sedangkan kecepatan motornya
tak akan mampu melampaui laju mobil mereka. Mirisnya, adegan itu dibuat panjang
dengan sehingga penonton seolah digiring untuk menertawakan ketidakmampuan
penjual mengejar dengan motor bututnya dan melupakan adegan tak layak sebelumnya. Padahal Amalia
bersama anaknya. Sangat disayangkan, apalagi ini film keluarga, Khawatirnya
tindakan tadi adalah benar menurut anak-anak.
Terlepas dari kekurangan tersebut,
film ini direkomendasikan untuk orang tua, tenaga pendidik atau calon orang tua
dalam memahami kebutuhan anaknya. Setiap ada yang dikurangkan, pasti ada yang
dilebihkan, sesuai tagline filmnya “..karena setiap anak terlahir sempurna”.
Selamat menonton.
Wallahu alam bi shawab
#onedayonepost
#nonfiksi
#resensifilm


1 komentar:
:-)
REPLYTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat